Euro jatuh ke level terendah dalam tiga minggu pada Senin pagi, sementara peso Meksiko juga tertekan setelah Presiden Donald Trump mengancam akan mengenakan tarif 30% atas impor dari dua mitra dagang terbesar AS mulai 1 Agustus.
Trump pada hari Sabtu mengumumkan tarif terbaru tersebut dalam surat terpisah kepada Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dan Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum yang diunggah di situs media sosial Truth Social miliknya.
Baik Uni Eropa maupun Meksiko menggambarkan tarif tersebut tidak adil dan mengganggu, sementara Uni Eropa mengatakan akan memperpanjang penangguhan tindakan balasan terhadap tarif AS hingga awal Agustus dan terus mendesak penyelesaian melalui negosiasi.
Reaksi pasar valuta asing terhadap ancaman tarif terbaru Trump sebagian besar mereda di awal sesi perdagangan Asia, meskipun euro sempat merosot ke level terendah dalam sekitar tiga minggu dan terakhir diperdagangkan 0,15% lebih rendah pada $1,1675.
Terhadap peso Meksiko, dolar menguat 0,2% menjadi 18,6630.
Namun, di tempat lain, dolar menguat terbatas, dengan poundsterling hanya turun 0,04% menjadi $1,3485, sementara yen Jepang naik 0,1% menjadi 147,27 per dolar.
Investor semakin tidak peka terhadap serangkaian ancaman tarif Trump, dengan pergolakan terbarunya dalam lanskap perdagangan global tidak banyak membantu mencegah saham AS mencapai rekor tertinggi dan hanya memberikan sedikit dorongan bagi dolar.
Dalam mata uang lain, dolar Australia menguat 0,02% menjadi $0,6575, sementara dolar Selandia Baru turun 0,07% menjadi $0,6004.
Di luar berita tarif, Trump pada hari Minggu mengatakan bahwa akan sangat baik jika Ketua Federal Reserve Jerome Powell mengundurkan diri, yang kembali mengancam akan merusak independensi bank sentral saat ia menyerukan penurunan suku bunga.
Para pedagang bisa mendapatkan petunjuk yang lebih baik tentang arah suku bunga AS ke depannya ketika data inflasi bulan Juni dirilis pada hari Selasa, dengan ekspektasi harga konsumen AS sedikit meningkat bulan lalu.
Pasar saat ini memperkirakan pelonggaran moneter The Fed sebesar lebih dari 50 basis poin pada bulan Desember.
Investor juga akan memperhatikan rilis angka produk domestik bruto Tiongkok yang akan dirilis pada hari Selasa.
Ekonomi terbesar kedua di dunia ini diperkirakan akan melambat pada kuartal kedua dari awal tahun yang solid karena ketegangan perdagangan dengan Amerika Serikat menambah tekanan deflasi.