Bergantung pada Penantian Data Inflasi AS, Harga Emas Stabil di Rabu Pagi

Rabu (13/10), harga emas stabil karena investor masih menantikan data inflasi AS dan risalah dari pertemuan kebijakan terakhir the Fed untuk petunjuk mengenai waktu bank sentral akan mulai menarik stimulus pandemi.

Emas berjangka AS naik tipis 0,1 persen menjadi diperdagangkan di 1.761,20 dolar AS per ounce. Sementara itu, emas di pasar spot berada di harga yang stabil, sekitar 1.760,46 dolar AS per ounce.

Kemarin, pembuat kebijakan ekonomi mengungkapkan, telah cukup pulih bagi bank sentral untuk mulai menarik dukungan era krisisnya, memperkuat ekspektasi The Fed akan mulai mengurangi pembelian obligasi bulanan secepatnya di bulan depan.

Pengurangan stimulus bank sentral dan kenaikan suku bunga cenderung mendorong imbal hasil obligasi pemerintah naik. Ini memperbedar peluang kerugian yang lebih tinggi bagi pemegang emas tanpa bunga.

Ketika tekanan inflasi meningkat di seluruh dunia, pasar-pasar uang maju cepat dengan penetapan perkiraan kenaikan suku bunga yang agresif. Pada kebanyakan kasus, kebijakan akan diperketat jauh lebih cepat dan pada laju yang jauh lebih cepat daripada yang ditunjukkan oleh penentu suku bunga

Dana Moneter Internasional (IMF) mengatakan bahwa gangguan rantai pasokan yang terus-menerus dan tekanan inflasi menghambat pemulihan ekonomi global dari pandemi yang sedang terjadi.

Jumlah orang Amerika yang secara sukarela berhenti dari pekerjaan mereka melonjak ke rekor tertinggi pada Agustus dan ada lebih dari 10 juta lowongan, menunjuk pengetatan pasar tenaga kerja.

Logam mulia lainnya, platinum turun 0,1 persen menjadi 1.006,05 dolar AS per ounce, sedangkan perak di pasar spot naik 0,1 persen menjadi 22,54 dolar AS per ounce.

Sementara itu, EUR/USD mengalami peningkatan tipis hingga ke harga 1.15508. Peningkatan tipis terjadi pula pada USD/JPY sampai ke harga 113.403. GBP/USD pun menguat hingga 1.36090, sedangkan AUD/USD menurun sampai ke 0.73445.

Emas Anjlok Terbebani Kenaikan Dolar

Terbebani oleh reli dolar di tengah spekulasi bahwa Federal Reserve AS tidak akan menunda pengurangan stimulusnya, harga emas anjlok pada Selasa (10/12) pagi WIB. Ini tetap dilakukan Fed meskipun ekspektasi stagflasi membatasi kerugian dalam lindung nilai inflasi.

Kontrak emas teraktif untuk pengiriman Desember di divisi Comex New York Exchange, mengalami penurunan sebesar 1,7 dolar AS atau setara dengan 0,1 persen, kemudian menjadi ditutup pada 1.755,71 dolar AS per ounce.

Dolar merupakan faktor utama dalam penurunan harga ini. Indeks dolar yang mengukur greenback terhadap enam mata uang lainnya naik 0,3 persen, mengurangi daya tarik emas bagi para pemegang mata uang lainnya.

Kekhawatiran terhadap inflasi yang tinggi dikombinasikan dengan terhentinya pertumbuhan ekonomi menghambat saham global, di tengah reli harga minyak.

Karena kemarin, Hari Columbus, hari libur federal di Amerika Serikat, perdagangan emas memiliki volume yang rendah dan menunjukkan sedikit pergerakan harga.

Harga emas belum benar-benar bergerak jauh bulan ini. Analis mengatakan bahwa emas menghadapi lebih banyak risiko penurunan dalam jangka pendek jika jatuh di bawah angka 1.750 dolar AS.

Platinum untuk pengiriman Januari turun 21,3 dolar AS atau 2,07 persen, menjadi ditutup pada 1.006,9 dolar AS per ounce. Perak untuk pengiriman Desember juga melemah 4 sen atau 0,18 persen kemudian ditutup pada 22,667 dolar AS per ounce.

Sementara itu, GBP/USD alami penurunan dan diperdagangkan di 1,35884. EUR/USD juga melemah ke 1,15467, sedangkan USD/JPY pun meningkat ke harga 113.335. AUD/USD juga meningkat sampai 0.73374.

Posisi Net Long Dolar Alami Peningkatan Lebih dari Dua Tahun

Posisi net long untuk dolar AS dalam minggu terakhir menguat ke level tertinggi dalam lebih dari dua tahun menurut data Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas yang dirilis pada hari Jumat. Posisi dolar AS telah net long selama 12 minggu berturut-turut setelah net short selama 16 bulan. Nilai posisi net long dolar adalah $22,89 miliar pada pekan yang berakhir 5 Oktober, dibandingkan dengan $16,37 miliar pada minggu sebelumnya.

Posisi dolar AS berasal dari kontrak bersih spekulan Pasar Moneter Internasional dalam yen Jepang, euro, pound Inggris dan franc Swiss, serta dolar Kanada dan Australia.

Dolar telah menurun sejak pertemuan kebijakan moneter Federal Reserve 21-22 September yang menyarankan kemungkinan pengurangan pembelian aset Fed mulai November tahun ini dan berakhir pada Juni 2022. Index meningkat 1% sejak pertemuan tersebut diadakan.

Fed akan membeli lebih sedikit aset utang, yang berarti akan ada lebih sedikit dolar yang beredar, membuat mata uang lebih berharga dan tapering menjadi positif.

Dolar melemah di hari Jumat (08/10) setelah laporan payrolls non pertanian AS yang mengecewakan. Data menunjukkan payrolls non pertaian AS meningkat 194.000 pekerjaan bulan lalu, sedangkan prediksi sebelumnya adalah 500.000 pekerjaan baru. Tetapi data untuk Agustus direvisi untuk menunjukkan 366.000 pekerjaan yang diciptakan, bukannya 235.000 posisi yang dilaporkan sebelumnya.

Sementara itu, GBP/USD masih alami kenaikan tipis dan diperdagangkan di 1,36319. EUR/USD meningkat ke 1,15668. USD/JPY pun meningkat ke harga 112.640. AUD/USD juga alami peningkatan tipis 0.73121.

Dolar Melonjak Hampir ke Level Tertinggi Satu Tahun

Jumat (08/10), dolar safe-haven berada di bawah level tertinggi satu tahun terhadap uang utama di saat adanya peningkatan sentimen risiko.

Hal tersebut mendukung mata uang pro-pertumbuhan. Para trader masih menunggu petunjuk tentang kecepatan normalisasi kebijakan Federal Reserve dari laporan penggajian bulanan yang diawasi ketat.

Indeks Mata Uang AS, yang mengukur greenback terhadap sekeranjang enam mata uang lainnya, sedikit berubah di 94,202 setelah diperdagangkan dalam kisaran yang ketat pada hari Kamis, tetap dalam jangkauan tertinggi minggu lalu di 94,504, rekor level harga baru sejak September 2020.

Mata uang Australia yang sensitif terhadap risiko melonjak 0,55% terhadap greenback bertahan di dekat level tertinggi tiga minggu. AUD/USD hampir mendatar di $0,73106 dari Kamis, saat menguat setinggi $0,7323 untuk pertama kalinya sejak 16 September.

Ekuitas global menguat dan imbal hasil obligasi naik setelah para pemimpin Senat AS bergerak untuk mencegah default utang AS, sementara pelonggaran global dalam harga energi meredam kekhawatiran stagflasi yang membara.

USD/JPY naik tipis 0,06% menjadi 111,69 melonjak menuju yang teratas kisaran perdagangan satu setengah minggu terakhir. EUR/USD ada di sekitar $ 1,1556, setelah melemah pada hari Rabu ke level terendah 14-bulan di $ 1,1529.

Federal Reserve mengatakan kemungkinan akan mulai mengurangi pembelian obligasi bulanannya segera setelah November dan menindaklanjuti dengan potensi kenaikan suku bunga tahun depan, karena pergantian bank sentral AS dari kebijakan krisis pandemi mendapatkan momentum. Data non-farm payrolls hari ini diperkirakan menunjukkan peningkatan berkelanjutan di pasar tenaga kerja, dengan perkiraan 500.000 pekerjaan ditambahkan pada bulan September.

Sementara itu, GBP/USD masih alami kenaikan 0,26% dari semalam diperdagangkan di 1,3617.

Komentar dari Kepala Ekonom baru Bank of England Huw Pill bahwa tekanan inflasi terbukti lebih kuat dari yang diperkirakan sebelumnya memperkuat ekspektasi untuk kenaikan suku bunga pada Februari, dan bahkan mungkin tahun ini.

Investor Khawatir Akan Inflasi, Dolar AS Alami Kenaikan

Kamis (07/10) pagi WIB, dolar AS mengalami kenaikan terhadap enam mata uang utama lainnya. Hal ini terjadi karena melonjaknya harga-harga energi memicu kekhawatiran tentang inflasi dan kenaikan suku bunga. Investor mendorong arus modal terhadap aset-aset berisiko ke tempat yang aman.

Indeks dolar AS yang mengukur greenback terhadap sekeranjang mata uang lainnya menguat 0,3 persen ke harga 94,227. Indeks mencapai level tertinggi 1 tahun di 94,504 minggu lalu.

Sebelum membalikkan beberapa pergerakan di sesi berikutnya, Rabu (06/10) pagi, dengan harga minyak mencapai level tertinggi dalam tujuh tahun, saham-saham jatuh dan imbal hasil obligasi pemerintah naik di seluruh dunia.

Hambatan bagi pertumbuhan kapan Federal Reserve yang dapat menaikkan suku bunga berpotensi dipengaruhi oleh meningkatnya tekanan inflasi. Federal Reserve berkata bahwa kemungkinan akan mulai mengurangi pembelian obligasi bulanannya segera setelah November dan kemudian menindaklanjutinya dengan kenaikan suku bunga, ketika peralihan bank sentral AS dari kebijakan krisis pandemi mendapatkan momentum.

Investor tetap gelisah mengenai negosiasi plafon utang AS, bahkan ketika Senat AS dari Partai Republik Mitch McConnell mengatakan partainya akan mengizinkan perpanjangan plafon utang federal hingga Desember, sebuah langkah yang akan mencegah gagal bayar bersejarah dengan korban ekonomi yang besar.

Investor tetap terfokus pada laporan penggajian AS pada akhir pekan yang dapat memberikan petunjuk tentang langkah Federal Reserve AS selanjutnya. Data penggajian non pertanian (NFP/non-farm payrolls) pada akhir pekan ini diprediksi menunjukkan perbaikan berkelanjutan di pasar tenaga kerja, dengan perkiraan 473.000 pekerjaan telah ditambahkan pada September.

Dolar Selandia Baru menurun 0,7 persen oleh penguatan greenback, dikombinasikan dengan keengganan terhadap mata uang berisiko meskipun bank sentral Selandia Baru menaikkan suku bunga pada Rabu untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun dan mengisyaratkan pengetatan lebih lanjut.

Sementara itu, pasangan GBP/USD melemah hingga 1,35783. USD/JPY juga menurun ke 111,442 dan AUD/USD turun sampai 0,72796. Begitu pula EUR/USD melemah ke 1,15506.

Emas Turun, Daya Tarik Logam Safe-Haven Rusak oleh Kenaikan Imbal Hasil Obligasi

Rabu (06/10) pagi di waktu Asia, harga emas terjatuh. Hal ini terjadi karena daya tarik logam safe-haven rusak oleh kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS.

Investor masih menantikan data penggajian non pertannian AS yang akan dirilis pada Jumat (08/10) mendatang. Ini diprediksi akan menunjukkan peningkatan berkelanjutan di pasar tenaga kerja yang bisa memicu The Fed untuk mulai mengurangi stimulus moneter sebelum akhir tahun. Pengurangan stimulus dan suku bunga yang lebih tinggi mengangkat imbal hasil obligasi dan membebani emas karena peluang kerugian emas tanpa bunga meningkat.

Dolar AS naik ke daerah tertinggi satu tahun pada minggu lalu terhadap sekeranjang mata uang lainnya. Ini menyebabkan harga emas lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

Imbal hasil obligasi AS 10 tahun dijadikan titik acuan, terakhir mengalami kenaikan 1,5223 persen. Indeks utama Wall Street rebound karena saham-saham pertumbuha bangkit dari aksi jual tajam.

Harga logam mulia lainnya, platinum untuk pengiriman Januari melemah 0,19 persen atau setara 1,8 dolar menjadi 959,8 dolar per ounce. Penurunan harga terjadi pula pada perak untuk pengiriman Desember sebanyak 0,16 persen atau 3,6 sen menjadi 22,608 dolar per ounce.

Di sisi lain, EUR/USD melemah ke 1,15911. Namun, pasangan GBP/USD naik hingga 1,36233. USD/JPY juga menguat ke 111,590. AUD/USD naik tipis sampai 0,72819.

Guo Ji Ri Bao Edisi 18 Oktober 2021

PT. Mentari Mulia Berjangka dengan bangga memberitahukan bahwa perusahaan kami diliput oleh harian Guo Ji Ri Bao edisi 18 Oktober 2021! Dalam edisi kali ini, Guo Ji Ri Bao mengundang analis senior kami, Zhen QuanXi, untuk berbagi pandangannya.

Guo Ji Ri Bao Edisi 15 Oktober 2021

PT. Mentari Mulia Berjangka dengan bangga memberitahukan bahwa perusahaan kami diliput oleh harian Guo Ji Ri Bao edisi 15 Oktober 2021! Dalam edisi kali ini, Guo Ji Ri Bao mengundang analis senior kami, Indra Gozali, untuk berbagi pandangannya.

Guo Ji Ri Bao Edisi 14 Oktober 2021

PT. Mentari Mulia Berjangka dengan bangga memberitahukan bahwa perusahaan kami diliput oleh harian Guo Ji Ri Bao edisi 14 Oktober 2021! Dalam edisi kali ini, Guo Ji Ri Bao mengundang analis senior kami, Zhen QuanXi, untuk berbagi pandangannya.

Guo Ji Ri Bao Edisi 13 Oktober 2021

PT. Mentari Mulia Berjangka dengan bangga memberitahukan bahwa perusahaan kami diliput oleh harian Guo Ji Ri Bao edisi 13 Oktober 2021! Dalam edisi kali ini, Guo Ji Ri Bao mengundang analis senior kami, Adi K, untuk berbagi pandangannya.