Dolar Jatuh, Investor Masih Tunggu Data Pekerjaan AS

Selasa (05/10) pagi, dolar AS melemah terhadap mata uang utama lainnya. Dolar AS jatuh dari level tertinggi karena para investor menunggu data pekerjaan AS yang akan menjadi instruksi kebijakan Federal Reserve berikutnya.

Indeks Dolar AS, yang mengukur greenback terhadap sekeranjang enam mata uang saingan, turun 0,2% menjadi 93,802. Indeks menguat 0,8% minggu lalu ke level tertinggi sejak akhir September 2020.

Market China Daratan ditutup sampai Kamis (7/10) untuk liburan Hari Nasional dan market Korea Selatan juga tutup pada Senin (4/10), perhatian investor adalah pada data AS yang akan datang.

Data Jumat (8/10/2021) diperkirakan akan menunjukkan peningkatan berkelanjutan di pasar kerja, dengan perkiraan 488.000 pekerjaan telah ditambahkan pada bulan September.

The Fed telah mengisyaratkan kemungkinan mulai mengurangi pembelian obligasi bulanan segera setelah November, namun terhambat dalam data tenaga kerja yang besar yang dapat menunda rencananya, trader khawatir.

Dolar mendapat sedikit dukungan dari data pada hari Senin (04/10) yang menunjukkan pesanan baru untuk barang-barang buatan AS mengalami akselerasi pada bulan Agustus, bahkan ketika pertumbuhan ekonomi tampaknya telah melambat pada kuartal ketiga karena kurangnya bahan dan tenaga kerja.

Akan tetapi, data Jumat (01/10) menunjukkan bahwa spekulan di pasar valuta asing telah tumbuh semakin bullish dalam mata uang AS dalam beberapa pekan terakhir, dengan taruhan bersih panjang pada dolar AS hingga level tertinggi sejak Maret 2020.

Dengan harga minyak naik ke level tertinggi hampir 7 tahun, greenback sangat lemah terhadap Krona Norwegia yang sensitif terhadap energi dan dolar Kanada. AUD/USD melemah 0,8% sampai 0,72639.

Sementara itu, EUR/USD menguat ke 1,16016. Pasangan GBP/USD pun naik hingga 1,35958. Namun, USD/JPY turun ke 111,070.

Dolar Turun Terpengaruh Hasil Uji Coba Pil COVID-19

Senin (04/10) pagi di waktu Asia, dolar melemah. Hal ini dipicu oleh hasil menggembirakan terhadap uji coba untuk pil COVID-19 yang mendukung selera risiko. Tetapi investor tetap berhati-hati menjelang pertemuan bank sentral di Australia dan Selandia Baru serta data tenaga kerja AS minggu ini.

Euro terbang kembali ke daerah yang lebih tinggi sedikit dari 1,16 dolar, yaitu menguat 0,1 persen pada 1,1605 dolar, membaik dari level terendah 14-bulan minggu lalu di 1,1563 dolar. Yen pun naik dari level terendah 19-bulan sebesar 0,1 persen di perdagangan Asia pada 110,92 per dolar. GBP/USD melemah ke 1.35331.

AUD/USD berada di titik yang lebih tinggi dari akhir pekan lalu, yaitu 0,72537. Selasa (05/10), Reserve Bank of Australia bertemu dan diperkirakan akan mempertahankan kebijakannya tetap stabil. Di seberang Tasman, kenaikan 25 basis poin dari bank sentral Selandia Baru, Reserve Bank of New Zealand, pada Rabu (06/10) juga telah diperhitungkan.

Jumat (08/10), data tenaga kerja AS diprediksi akan menunjukkan peningkatan yang berlanjut di pasar kerja, dengan perkiraan 460.000 pekerjaan telah ditambahkan pada September. Ini cukup untuk mendukung kemungkinan Federal Reserve untuk mulai melakukan tapering sebelum akhir tahun.

Ekonom yang disurvei memprediksi bahwa suku bunga akan bertahan di Australia hingga setidaknya 2024, karena RBA bersikeras akan demikian.

Para investor juga berpikir bahwa akan dibutuhkan banyak hal untuk menggagalkan Fed dari jalur tapering-nya, tetapi stabilnya imbal hasil obligasi pemerintah di sepanjang kurva menunjukkan beberapa ada risiko pada waktunya.

Dolar AS Anjlok Tertekan Klaim Pengangguran Mingguan

Jumat (01/10) pagi WIB, dolar anjlok akibat tekanan kenaikan klaim pengangguran mingguan AS. Investor pun memperkuat keuntungan mereka setelah kenaikan tajam dalam sebelumnya.

Data menunjukkan bahwa klaim pengangguran awal AS naik untuk minggu ketiga berturut-turut menjadi 362.000 untuk periode yang berakhir 25 September.

Pertumbuhan ekonomi AS juga mengalami percepatan di kuartal kedua sebesar 6,7%, berkat uang bantuan pandemi dari pemerintah yang mendorong pembelanjaan konsumen.

Pada bulan September, dolar berakhir naik 1,7%, kenaikan bulanan kedua berturut-turut. Untuk kuartal ketiga, dolar naik 2,0%. Indeks dolar yang mengukur mata uang AS terhadap sekeranjang enam mata uang lainnya mencapai 94,504, tertinggi sejak 28 September tahun lalu.

Penguatan dolar baru-baru ini terjadi walaupun ada plafon utang AS di Washington yang mengancam akan menutup sebagian besar pemerintahan.

AUD menguat 0,8% sampai 0,72321 dolar AS, setelah anjlok 0,9% semalam, karena harga bijih besi reli menjelang liburan Golden Week di tujuan perdagangan utama Australia, China.

Sementara itu, USD/JPY turun ke 111,267. EUR/USD pun melemah tipis ke 1,15723, sedangkan pasangan GBP/USD naikk hingga 1,34534.

Ekspetasi Tapering Fed Buat Dolar Sentuh Level Tertinggi Satu Tahun

Kamis (30/09) pagi, dolar AS menguat ke level tertinggi satu tahun. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya ekspektasi pengurangan pembelian aset atau tapering Fed akan dimulai November dan kenaikan suku bunga mungkin pada akhir 2022.

Investor terfokus pada kekhawatiran perlambatan global, kenaikan harga energi dan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang lebih tinggi.

Greenback juga meningkat walaupun ada plafon utang AS yang mengancam akan menjerumuskan pemerintah Washington ke dalam penutupan.

Indeks dolar yang mengukur mata uang AS terhadap sekeranjang enam mata uang utama saingannya menguat lagi sampai ke 94,435. Ini merupakan hari ke empat dari kenaikan berturut-turut, juga merupakan yang tertinggi sejak akhir September tahun lalu. Indeks terakhir naik 0,7% pada 94,403.

Ketua Fed Jerome Powell, Presiden Bank Sentral Eropa Christine Lagarde dan Gubernur Bank Sentral Inggris Andrew Bailey mengatakan mereka mengawasi inflasi di tengah lonjakan harga energi dan berlanjutnya hambatan produksi.

Sementara itu, USD/JPY naik ke 111,780, sedangkan pasangan GBP/USD melemah hingga 1,34474. EUR/USD pun melemah tipis ke 1,16042. AUD/USD juga anjlok sampai ke harga 0.72001

Emas Capai Level Terendah Tujuh Minggu

Rabu (29/09) pagi di waktu Asia, level terendah tujuh minggu tercapai oleh emas akibat kenaikan dolar dan imbal hasil obligasi pemerintah AS di tengah ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve yang lebih cepat dari perkiraan.

Kontrak emas teraktif untuk pengiriman Desember di divisi Comex New York Exchange turun 14,5 dolar atau setara 0,82 persen menjadi 1.737,50 dolar per ons. Kemarin, emas berjangka mengalami kenaikan tipis tipis 0,02 persen menjadi 1.752 dolar.

Indeks dolar yang mengukur greenback terhadap enam mata uang lainnya naik 0,4 persen, membuat emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya. Imbal hasil obligasi pemerintah AS 10-tahun menguat lagi di atas 1,5 persen, level tertinggi tiga bulan. Investor mulai memperhitungkan inflasi masa depan yang lebih tinggi.

Sebagian investor memandang emas sebagai lindung nilai terhadap inflasi yang lebih tinggi, namun imbal hasil obligasi pemerintah yang lebih tinggi mengumpulkan daya tariknya.

Logam mulia lainnya, platinum untuk pengiriman Januari melemah sampai 22,467 per ons. Perak untuk pengiriman Desember juga turun hanya satu persen, menjadi 22,468 per ons.

Sementara itu, pasangan GBP/USD melemah hingga 1,35430. EUR/USD turun tipis ke 1,16847. AUD/USD juga turun sampai ke harga 0.72376, sedangkan USD/JPY naik ke harga 111,443.

Terpengaruh Imbal Hasil Obligasi, Harga Emas Cenderung Stabil

Selasa (28/09), harga emas cenderung stabil. Kenaikan terbatas oleh menguatnya dolar dan imbal hasil obligasi pemerintah AS. sementara investor menunggu Federal Reserve untuk petunjuk lebih lanjut tentang strategi tapering.

Kontrak emas teraktif untuk pengiriman Desember di divisi Comex New York Exchange naik tipis 0,3 dolar atau setara 0,02 persen, menjadi USD1.752 per ons.

Indeks dolar naik 0,1 persen terhadap enam mata uang lainnya. Hal ini membuat emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya. Imbal hasil obligasi pemerintah AS 10-tahun dijadikan acuan naik ke level tertinggi dalam tiga bulan.

Pidato pejabat The Fed minggu ini termasuk Ketua Jerome Powell di depan Kongres tentang respons kebijakan bank sentral terhadap pandemi COVID-19 akan menjadi fokus utama para investor sekarang.

Di sisi lain, platinum untuk pengiriman Oktober naik 1,60 dolar atau 0,16 persen, menjadi 981,5 dolar per ons. Perak untuk pengiriman Desember naik 26,9 sen atau 1,2 persen, menjadi 22,693 dolar per ons.

Sementara itu, USD/JPY naik ke harga 111,175, AUD/USD pun naik sampai 0.72970. Pasangan GBP/USD juga menguat hingga 1,37015. Penurunan harga terjadi pada EUR/USD sampai ke 1,16894.

Emas Naik oleh Pelemahan Imbal Hasil Treasury AS

Senin (27/09) emas memperpanjang rebound Jumat sambil menaikkan tawaran beli ke $1.760, naik 0,50%. Dengan demikian, logam mulia mendapat manfaat dari sentimen pasar yang optimis, yang pada gilirannya memicu mundurnya imbal hasil Treasury AS.

Penurunan imbal hasil obligasi acuan membebani Indeks Dolar AS. Terjadi penurunan 0,05% di dekat 93,24.

Optimisme terhadap stimulus AS dan berita utama tentang covid dan hubungan AS-China, terutama karena pertukaran tahanan Kanada-China juga mempengaruhi hal ini. Tidak adanya berita Evergrande dan sedikit keheningan atas kekhawatiran pengurangan Fed menambah selera risiko yang lebih cerah.

Pekan lalu, Evergrande Group yang berutang $305 miliar dan kekurangan uang tunai, mengumumkan akan melakukan pembayaran bunga obligasi dalam negeri, meningkatkan sentimen risiko. Pasar kemungkinan akan tetap gelisah dan rentan terhadap berita utama seputar bencana tersebut. Di saat yang sama, safe-haven dolar AS pulih dari penurunan persentase satu hari terbesar dalam sekitar satu bulan pada hari Kamis setelah Beijing menyuntikkan uang tunai baru ke dalam sistem keuangan.

Selain itu, Presiden Fed Cleveland Loretta Mester mengungkap sentimen untuk pengurangan tahun ini, dan mengatakan bank sentral dapat mulai menaikkan suku pada akhir tahun depan jika pasar kerja terus membaik seperti yang diharapkan.

Di sisi lain, penurunan harga terjadi pada EUR/USD sampai ke harga 1,17201, begitu pula AUD/USD turun sampai 0.72802. Pasangan GBP/USD pun turun hingga 1,36717, sedangkan USD/JPY naik ke harga 110,508.

Emas Anjlok oleh Kenaikan Imbal Hasil Obligasi

Jumat (24/09) pagi WIB, emas anjlok. Penurunan harga emas dipengaruhi oleh kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan selera terhadap aset-aset berisiko, ketika para investor terus memposisikan diri untuk kenaikan suku bunga yang lebih cepat dari perkiraan oleh Federal Reserve.

Kontrak emas teraktif untuk pengiriman Desember di divisi Comex New York Exchange, anjlok 29 dolar AS atau 1,62% menjadi ditutup pada 1.749,85 dolar AS per ons. Ini adalah yang terendah dalam lebih dari enam minggu.

The Fed mengungkap pada Rabu (22/09) bahwa akan mengurangi pembelian obligasi bulanannya dan mengisyaratkan kenaikan suku bunga mungkin mengikuti lebih cepat dari yang diperkirakan, pada 2022. Kenaikan suku bunga Fed akan meningkatkan peluang kerugian memegang emas, yang tidak membayar suku bunga.

Perkataan The Fed melebihi kemungkinan dukungan dari kenaikan tak terduga dalam klaim pengangguran mingguan AS. Ini juga menekan aset-aset safe-haven, ekuitas global menguat, dibantu oleh memudarnya kekhawatiran gagal bayar Evergrande.

Emas mendapat sedikit pengaruh dari penurunan dolar, yang biasanya mendorong permintaan emas karena membuat logam lebih murah bagi mereka yang memegang mata uang lain dan karena bersaing dengan logam mulia sebagai aset safe-haven.

Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Desember turun 22,7 sen menjadi ditutup pada 22,680 dolar AS per ons. Platinum untuk pengiriman Oktober turun tipis 4,0 dolar AS atau setara 0,4%, dan ditutup pada 998 dolar AS per ons.

Sementara itu, kenaikan teradi pada USD/JPY ke harga 110,395, begitu pula AUD/USD naik tipis sampai 0.72962. Pasangan GBP/USD pun naik hingga 1,37229. EUR/USD juga menguat sampai ke harga 1,17387.

Dolar Dibawa Naik oleh Pernyataan Federal Reserve

Kamis (23/09) pagi waktu Asia, dolar AS menguat terhadap sejumlah mata uang utama lainnya setelah pengumuman kebijakan terbaru oleh Federal Reserve, dolar Australia dan yuan China juga menguat sementara Evergrande China mengungkapkan bahwa mereka akan membayar kupon obligasinya.

The Fed mengisyaratkan kenaikan suku bunga yang lebih cepat dari perkiraan dan pelonggaran pembelian obligasi pada pertengahan tahun depan.

Indeks dolar yang mengukur greenback terhadap enam mata uang lainnya menguat 0,093 persen, bergantian antara kenaikan dan penurunan setelah pengumuman.

Evergrande mengatakan bahwa mereka telah menuntaskan satu pembayaran kupon yang jatuh tempo pada Kamis melalui negosiasi pribadi. Hal ini mengurangi kekhawatiran gagal bayar dan kemungkinan risiko penularan. Bank sentral China pun menyuntikkan 90 miliar yuan ke dalam sistem perbankan untuk mendukung pasar. Namun, hal terkait pengembang akan mampu membayar kupon obligasi dolar luar negeri yang jatuh tempo pada Kamis belum pasti.

AUD/USD naik 0,33 persen menjadi 0,725 dolar, Yuan China di perdagangan luar negeri juga menguat terhadap greenback menjadi 6,4627.

Mata uang safe-haven yen Jepang melemah 0,50 persen terhadap greenback menjadi 109,78 per dolar setelah keputusan bank sentral Jepang (Bank of Japan) untuk mempertahankan kebijakan moneternya.

Sementara itu, USD/JPY naik hingga ke harga 109,864, sedangkan EUR/USD melemah sampai ke harga 1,16865. GBP/USD juga mengalami penurunan hingga 1,36165.

Emas Kembali Naik, Lagi-lagi Terpengaruh Sentimen Evergrande

Rabu (22/09) harga emas kembali naik. Penyebab kenaikan ini masih sama seperti kemarin, yaitu kekhawatiran atas kebangkrutan perusahaan properti China Evergrande yang terus mendorong pembelian aset aman safe-haven.

Kenaikan harga juga terjadi menjelang pertemuan Federal Reserve. Ini bisa memberi petunjuk mengenai jadwal bank sentral memotong stimulusnya terhadap ekonomi AS.

Kontrak emas teraktif untuk pengiriman Desember di divisi Comex New York Exchange, naik lagi 14,3 dolar AS atau setara dengan 0,80 persen menjadi ditutup pada 1.778,10 dolar AS per ons.

Safe-haven emas sudah naik di tengah kekhawatiran baru-baru ini tentang pertumbuhan ekonomi global, khususnya perlambatan ekonomi China. Pengaruh positif dari tergelincirnya dolar AS dan kenaikan harga minyak mentah juga mempengaruhi kenaikan harga pada emas.

Federal Open Market Committee (FOMC) akan merilis pernyataan kebijakan dan proyeksi ekonomi baru pada akhir pertemuannya di hari ini. Maka, timbul kepercayaan bahwa bank sentral berpotensi mengumumkan dimulainya pengurangan pembelian aset pada kuartal keempat yang bisa membawa emas ke titik yang lebih rendah.

Pengurangan stimulus bank sentral dan kenaikan suku bunga lebih mengangkat imbal hasil obligasi dan meningkatkan potensi para pemegang emas tanpa bunga untuk mengalami kerugian.

Logam mulia lain, perak untuk pengiriman Desember menguat 1,82 persen dan ditutup pada 22,609 dolar AS per ons. Platinum untuk pengiriman naik 51,6 dolar AS atau setara 5,74 persen menjadi ditutup pada 949,9 dolar AS per ons.

Di sisi lain, USD/JPY turun hingga ke harga 109,353, GBP/USD pun megalami penurunan hingga 1,36580. EUR/USD pun melemah sampai ke harga 1,17234. Begitu pula AUD/USD menurun hingga 0,72436.