Dolar AS Melonjak Sementara Dolar Australia dan Selandia Baru Mendekati Level Tertinggi

Kamis (10/02), dolar AS naik. Dolat bergerak dalam kisaran sempit, sementara dolar Australia dan Selandia Baru mendekati level tertinggi multi minggu. Investor sekarang mengalihkan perhatiannya pada data inflasi AS terbaru. Indeks Dolar AS sedikit menguat 95,553.

Pasangan USD/JPY naik tipis di 115,62. Rupiah menguat tipis 0,06% di 14.348,0 per dolar AS hingga siang hari ini.

USD/CNY turun tipis ke 6,3581 dan GBP/USD melemah tipis 0,01% di 1,3531.

Investor meningkatkan ekspektasi bahwa Fed akan menaikkan suku bunga ketika bertemu di bulan Maret. Namun, Presiden Federal Reserve Cleveland Loretta Mester pada hari Rabu mengatakan bahwa ia tidak melihat kasus yang menarik untuk memulai dengan kenaikan suku bunga 50 basis poin.

Namun, kenaikan suku bunga di masa depan setelah bulan Maret akan tergantung pada kekuatan inflasi dan seberapa itu moderat atau bertahan.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS dan Eropa berada dalam tren naik di tengah meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga. Ekspektasi ini mereda pada Rabu dan Kamis pagi, di mana imbal hasil obligasi acuan AS tenor 10 tahun di 1,9354% pada awal perdagangan Asia Kamis. Ini sedikit di bawah 1,970% Selasa, yang merupakan titik tertinggi 27 bulan.

Euro sempat mencapai 1,1416, level terendah sepanjang minggu setelah Presiden European Central Bank Christine Lagarde mengatakan pada hari Senin bahwa ia melihat tidak perlunya kebijakan moneter yang terlalu ketat, menenangkan ekspektasi kenaikan pada tahun 2022.

Dolar Australia berada tidak jauh dari 0,7194 yang dicapai sehari sebelumnya, mendekati level tertinggi tiga minggu. NZD/USD melonjak tipis 0,01% ke 0,6884.

Dolar Selandia Baru berada di dekat level tertinggi dua minggu di 0,66975 dolar yang dicapai pada hari Rabu. Sentimen risiko yang membaik juga sedikit membebani yen safe haven, yang diperdagangkan di dekat batas bawah dari kisaran baru-baru ini.

Namun, mata uang secara luas terjebak dalam pola bertahan menjelang data AS, yang mencakup IHK dan akan dirilis hari ini. Data juga dapat memberikan petunjuk lanjutan mengenai garis waktu Federal Reserve AS untuk memperketat kebijakan moneternya.

Pandangan Hawkish ECB Berpotensi Batasi Kenaikan Dolar

Rabu (09/02), dolar Amerika Serikat melemah meskipun imbal hasil Treasury naik ke level tertinggi multi tahun.

Investor sekarang menunggu data inflasi AS yang akan dirilis pada hari Kamis untuk mendapatkan petunjuk garis waktu kenaikan suku bunga Federal Reserve AS. Imbal hasil treasury AS melonjak ke level 1,97% pada hari Selasa. Titik ini pernah dicapai pada November 3 tahun lalu.

Indeks dolar AS yang mengukur greenback terhadap sejumlah mata uang lainnya turun tipis 0,12% menjadi 95,526.

Presiden European Central Bank (ECB) Christine Lagarde mengatakan pada hari Senin bahwa tidak perlu adanya pengetatan yang ekstensif dan menekan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga yang agresif.

Indeks dolar dalam pola bertahan sementara pasar menimbang prospek pengetatan kebijakan Fed yang tiba-tiba terhadap perubahan kebijakan hawkish ECB.

Euro melonjak 2,7% selama minggu lalu setelah Lagarde membuka kemungkinan kenaikan suku bunga potensial di minggu yang sama.

Meskipun ECB yang lebih berpandangan hawkish mungkin membatasi kenaikan dolar dalam waktu dekat dan indeks dolar berpeluan beli saat terjadi penurunan ke level terendah 95, catatan tersebut menambahkan.

AUD/SUD menguat 0,29% di 0,7162 dan NZD/USD menguat tipis 0,21% menjadi 0,6662.

USD/CNY turun tipis ke 6,3614 dan GBP/USD naik tipis di 1,3557. Lembaga pendanaan yang didukung negara China masuk ke pasar saham untuk membeli saham lokal Selasa sore setelah terjadi penurunan intraday terbesar dari indeks acuan sejak Agustus 2021.

USD/JPY melemah tipis 0,07% ke 115,48. Rupiah kembali menguat di 14.367,6 per dolar AS.

Investor sekarang menunggu data inflasi AS, termasuk IHK yang akan dirilis pada hari Kamis untuk mencari petunjuk lanjutan tentang kerangka waktu kenaikan suku bunga.

Investor memperkirakan lebih dari 70% peluang kenaikan 25 basis poin dan kenaikan hampir 25 basis poin serta peluang hampir 30% untuk kenaikan 50 basis poin ketika para pengambil kebijakan AS menggelar rapat pada bulan Maret, menurut Perangkat FedWatch CME.

Presiden Fed San Francisco Mary Daly mengatakan pada hari Selasa bahwa inflasi AS bahkan mungkin naik lebih tinggi sebelum berubah menjadi lebih baik.

Dolar AS Menguat pada Selasa Petang

Selasa (08/02) petang di Asia, dolar AS bergerak naik. Indeks dolar AS yang mengukur greenback terhadap sejumlah mata uang lainnya naik di 95,586 pada siang hari ini.

AUD/USD melemah di 0,7125 dan NZD/USD naik 0,15% ke 0,6642.

USD/CNY naik tipis menjadi 6,3624 dan GBP/USD turun tipis di 1,3528.

Pasar berjangka menilai peluang 1 berbanding 3 bahwa Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin pada Maret 2022, dan kemungkinan kenaikan agresif sesudahnya telah memberi dorongan pada dolar.

Laporan pekerjaan AS yang jauh lebih kuat dari perkiraan selama minggu lalu menekankan sorotan pada inflasi, karena investor memperkirakan implikasi atas tenggat waktu pengetatan kebijakan moneter Federal Reserve AS.

Euro berada di bawah level resisten yang kuat sebelum rilis data inflasi AS pekan ini, dan mewaspadai bahwa hal itu dapat memicu kenaikan untuk mata uang AS tersebut.

Euro melonjak 2,7% selama minggu lalu setelah European Central Bank (ECB) melontarkan perubahan nada kebijakan hawkish yang mengejutkan selama minggu lalu.

Mata uang tunggal telah menahan kenaikan tetapi tidak mampu menembus level resisten di sekitar $1,1483. Imbal hasil obligasi Eropa berada dalam tren naik dan euro terakhir turun 0,22% di 1,1416 dolar AS.

Meskipun hari Selasa terlihat tenang dalam hal rilis data, investor sudah menantikan data inflasi AS, termasuk IHK yang akan dirilis pada hari Kamis mendatang.

USD/JPY menguat ke 115,47. Rupiah naik tipis 0,08% ke 14.383,6 per dolar AS.

Dolar Melonjak Sementara Euro Melemah

Senin (07/02) petang, dolar AS masih melonjak oleh data pekerjaan AS yang kuat, sementara euro turun dari puncak tiga minggu pada hari Jumat lantaran trader terus mencerna perubahan kebijakan hawkish European Central Bank (ECB).

Indeks dolar AS yang mengukur greenback terhadap sejumlah mata uang lainnya, naik tipis ke 95.500 menurut data Investing.com. Rupiah berakhir turun ke 14.396,6 per dolar AS.

Ekspektasi ini dapat didukung oleh IHK AS yang akan dirilis Kamis, dengan IHK utama dan data bulanan inti terlihat naik 0,5%, bisa menghasilkan angka tahunan masing-masing 7,3% dan 5,9%.

Sementara, GBP/USD juga naik tipis 0,06% di 1,3537 pukul 15.34 WIB, tidak jauh dari level tertinggi dua minggu di 1,3626 yang dicapai pada hari Kamis setelah Bank of England menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin, USD/JPY turun tipis 0,05% ke 115,14, sementara mata uang sensitif risiko AUD/USD menguat 0,27% menjadi 0,7095, rebound dari aksi jual minggu lalu setelah Gubernur Reserve Bank of Australia Philip Lowe menyatakan perlu kesabaran terkait dengan kebijakan kenaikan suku bunga.

Dolar AS telah dibantu oleh laporan ketenagakerjaan yang sangat kuat pada hari Jumat silam, di mana ada 467.000 pekerjaan nonpertanian ditambahkan pada Januari, jauh lebih besar daripada yang diperkiraan, sementara, yang lebih mengejutkan, pemerintah merevisi data ketenagakerjaan untuk November dan Desember dengan total gabungan lebih dari 700.000.

Juga membantu dolar adalah status safe haven, setelah Gedung Putih memperingatkan pada hari Minggu bahwa Rusia dapat menyerang Ukraina kapan saja, meski bidang diplomasi terus berlanjut untuk menahan situasi panas yang ada bahkan kala Presiden Prancis Emmanuel Macron menuju ke Moskow.

Euro telah melemah pada hari Senin. EUR/USD melemah tipis 0,01% ke 1,1445 setelah mencapai level tertinggi sejak pertengahan Januari pada hari Jumat lalu usai European Central Bank menyatakan lebih banyak kekhawatiran muncul atas tekanan inflasi kawasan dari yang diperkirakan minggu lalu.

Klaas Knot, Presiden Bank Sentral Belanda dan anggota Dewan Pemerintahan European Central Bank, melanjutkan tema tersebut pada hari Minggu, menyatakan bahwa ia mengharapkan ECB menaikkan suku bunga pada kuartal IV tahun ini.

Selain itu, Knot dikenal sebagai salah satu anggota dewan ECB yang berpandangan lebih hawkish, dan anggota yang lain perlu dibujuk sebelum bank sentral mulai menaikkan suku bunga.

Dolar Melemah karena Kebijakan Hawkish European Central Bank

Dolar mengalami penurunan oleh karena kenaikan kuat saham berjangka AS melemahkan kebutuhan atas tempat berlindung yang aman dan perubahan kebijakan hawkish oleh European Central Bank mendorong mata uang tunggal pada Jumat (04/02) sore.

Pendapatan perusahaan yang kuat dari raksasa ritel daring Amazon setelah penutupan bel perdagangan di Wall Street Kamis telah mendorong kenaikan besar dan kuat di ekuitas berjangka AS, serta pasar saham di Asia dan Eropa. Peningkatan kepercayaan ini telah menekan permintaan untuk greenback, yang sering dianggap sebagai tempat berlindung yang aman di saat terjadi tekanan.

Mata uang yang paling diuntungkan adalah euro, naik 0,2% menjadi 1,1456, di jalur untuk meraih minggu terbaiknya sejak Maret 2020. Selain itu, alasan utama untuk kenaikan euro adalah konferensi pers Presiden ECB Christine Lagarde setelah pertemuan kebijakan bank sentral, di mana ia mengakui risiko inflasi yang meningkat dan menolak untuk menekankan proyeksi sebelumnya bahwa peningkatan suku bunga tahun ini sangat tidak mungkin terjadi.

Rilis data ketenagakerjaan non pertanian AS pada Jumat malam dapat memengaruhi pemikiran ini, tetapi dengan lebih fokus pada inflasi dan perlambatan tajam pertumbuhan pekerjaan pada Januari akibat penyebaran varian Omicron Covid-19 kemungkinan tidak menggerakkan dolar terlalu banyak.

Indeks dolar AS yang mengukur greenback terhadap sejumlah mata uang lainnya, turun  di 95,286, setelah jatuh minggu ini – penurunan mingguan terbesar sejak Maret 2020. Rupiah melemah di 14.380,1 per dolar AS.

Di tempat lain, USD/JPY melonjak 0,1% menjadi 115,09, di mana Bank of Japan terlihat sebagai bank sentral utama yang paling dovish, terutama setelah perubahan sikap ECB.

AUD/USD turun 0,3% ke 0,7117, ditekan oleh pandangan Gubernur Reserve Bank of Australia Philip Lowe yang mengajarkan kesabaran dalam kenaikan suku bunga pasca publikasi Pernyataan kuartalan bank sentral yang membahas Kebijakan Moneter.

Sementara, GBP/USD beranjak lebih rendah ke 1,3591, tidak jauh dari level tertinggi dua minggu di 1,3626 yang dicapai pada hari Kamis setelah BoE menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin, seperti yang diharapkan secara luas.

Mungkin ada lebih banyak keuntungan di depan sterling karena hampir setengah dari para pengambil kebijakan BOE memilih kenaikan yang lebih besar dengan peningkatan inflasi di atas 7%, lebih besar tiga kali lipat dari target bank sentral sebesar 2% dan persentase penuh lebih tinggi dari perkiraannya pada bulan Desember.

Dolar AS Alami Kenaikan Usai Terima Dukungan

Kamis (03/02) dolar AS beranjak naik, ditopang dari tingkat penghindaran risiko setelah hasil pendapatan yang mengecewakan dari Meta pemilik Facebook, tetapi fokusnya kini bertumpu pada pertemuan bank sentral di Inggris dan Eropa. 

Dolar AS, dianggap sebagai tempat berlindung yang aman di saat terjadi tekanan, telah menerima beberapa dukungan usai Meta Platforms melaporkan pendapatan yang mengecewakan dan prospek yang lemah, mendorong aksi jual di saham teknologi dan media sosial. 

Indeks Dolar AS, yang mengukur greenback terhadap sejumlah mata uang lainnya, naik tipis 0,18% ke 96,105. Rupiah berakhir mlemah 0,16% di 14.377,6 per dolar AS. 

Mata uang yang sensitif terhadap risiko, seperti dolar Australia dan Selandia Baru, mengalami kesulitan. AUD/USD turun 0,16% di 96,106.

GBP/USD turun 0,19% di 1,3551, menjelang pertemuan Bank of England, di mana bank sentral ini diperkirakan akan memberikan kenaikan suku bunga pertama kembali sejak 2004, setelah 15 basis poin kenaikan pada bulan Desember, dengan inflasi kini ada di tingkat tertinggi tiga dekade.

NZD/USD hanya naik tipis 0,08% ke 0,6634. Indeks dolar AS sejauh ini hanya naik 0,5% tahun ini, setelah naik hampir 7% pada tahun 2021, kinerja terbaiknya sejak 2015, saat Federal Reserve dipandang sebagai salah satu bank sentral besar pertama yang mengendalikan kebijakan moneter akomodatif karena lonjakan inflasi. 

Dolar AS diperkirakan akan menguat setidaknya selama 3-6 bulan lagi, tetapi akan membutuhkan perubahan signifikan dalam ekspektasi pasar untuk kenaikan suku bunga Federal Reserve guna mendorongnya lebih tinggi.

Inflasi juga menjadi masalah di Zona Euro setelah data yang dirilis pada hari Rabu menunjukkan harga konsumen tak terduga melonjak ke tingkat rekor sebesar 5,1% pada Januari, lebih besar dua kali lipat target 2% ECB. ECB diperkirakan tidak akan mengubah kebijakan pada pertemuan ini, tetapi investor akan dengan hati-hati mendengarkan konferensi pers Lagarde untuk mencari tanda-tanda sikap kebijakan hawkish, terutama dengan The Fed dan BOE yang sekarang berbicara keras. 

Sementara, USD/JPY naik 0,2% menjadi 114,67 setelah aktivitas sektor jasa Jepang mengalami kontraksi pada laju tercepatnya dalam lima bulan di bulan Januari, dan PMI jasa turun ke 47,6 dari 52,1 bulan sebelumnya dan pembacaan awal tercatat 48,8. 

Dolar Menengah Saat Ada Kenaikan Pasar Ekuitas Global

Rabu (02/02), dolar AS melemah di tengah kenaikan pasar ekuitas global mendorong sentimen risiko sementara pejabat Federal Reserve memberikan sikap hati-hati terhadap ekspektasi kenaikan suku bunga.

Indeks dolar AS yang mengukur greenback terhadap sejumlah mata uang lainnya, turun 0,2% menjadi 96,135, mundur dari level tertinggi 18 bulan di 97,441 yang terlihat pada akhir minggu lalu.

Dolar AS, yang sering dilihat sebagai tempat berlindung yang paling aman di saat terjadi tekanan, telah terlihat mengalami aksi jual pada hari Rabu menyusul kenaikan di pasar ekuitas di seluruh dunia didukung hasil pendapatan yang positif dari perusahaan raksasa teknologi Alphabet.

Rupiah ditutup menguat 0,16% di 14.357,5 per dolar AS.

GBP/USD meningkat 0,1% menjadi 1,3539, dengan sterling mempertahankan penguatannya baru-baru ini menjelang pertemuan BoE ari Kamis, di mana kenaikan suku bunga kedua dalam waktu kurang dari dua bulan diperkirakan secara luas.

USD/JPY turun menjadi 114,57, terus menjauh dari puncak minggu lalu di 115,68, sementara USD/CNY datar di 6,3612.

Juga membebani dolar adalah langkah-langkah baru-baru ini dari sejumlah pejabat Fed untuk menurunkan ekspektasi kenaikan 50 basis poin yang besar dan kuat pada bulan Maret oleh bank sentral AS bahkan dengan inflasi berada di level tertinggi 40 tahun.

Mata uang yang peka terhadap risiko, seperti dolar Australia, telah diuntungkan. AUD/USD naik 0,1% menjadi 0,7135, sementara EUR/USD melonjak ke 1,1275 menjelang rilis angka IHK tahunan zona euro untuk Januari.

Presiden Federal Reserve St. Louis James Bullard, yang sering dianggap sebagai salah satu pengambil kebijakan Fed yang lebih hawkish, mengatakan pada hari Selasa bahwa ia mendukung kenaikan suku bunga berturut-turut pada pertemuan Fed Maret, Mei dan Juni.

Selain itu, Presiden Federal Reserve Bank of Kansas City Esther George, yang berpandangan optimis lainnya, mengatakan bank sentral harus berhati-hati dan dapat mengambil tindakan yang kurang agresif dalam menaikkan suku bunga dengan mengurangi angka neraca lebih besar.

Trader akan mengawasi rilis gaji swasta ADP menjelang laporan pekerjaan resmi bulanan hari Jumat. Pertumbuhan pekerjaan swasta kemungkinan akan melambat menjadi 207.000 pada Januari setelah mencatat laju tercepatnya dalam tujuh bulan pada Desember, saat naik 807.000.

Emas Awali 2022 dengan Harga yang Lebih Baik

Emas awali tahun 2022 dengan lebih baik, diperdagangkan pada level tertinggi lima minggu. Untuk melanjutkan uptrend bullish jangka panjangnya di tahun baru, emas harus tetap naik dengan konsisten.

Senin (03/01) pagi di waktu Asia, emas terkoreksi tipis menjadi 1.828,4 UUSD per ons troy. Harga emas kontrak untuk pengiriman Februari melemah ke 1.828,5 USD per ons troy.

Indeks dolar AS melonjak ke 95,703.

Investor emas dikatakan agar tidak perlu takut akan poros yang akan datang dalam kebijakan moneter Federal Reserve. Selama pertemuan kebijakan moneter bank sentral AS terakhir, Federal Reserve mengisyaratkan bahwa mereka akan mengakhiri pembelian obligasi bulanan pada bulan Maret dan menaikkan suku bunga tiga kali tahun depan.

Investor harus melihat melampaui tingkat kebijakan nominal dan memeriksa faktor-faktor lain seperti dinamika penawaran dan permintaan pasar emas yang dapat memengaruhi pergerakan harga emas. Investor juga perlu menempatkan sikap kebijakan moneter Federal Reserve dalam perspektif yang jauh lebih besar di pasar keuangan. Dengan inflasi yang diperkirakan akan tetap tinggi hingga tahun 2022, suku bunga riil akan tetap berada di wilayah negatif.

Emas juga diprediksi akan tetap menjadi aset safe-haven yang menarik pada tahun 2022 karena investor berupaya melakukan lindung nilai terhadap taruhan berisiko mereka.

Salah satu alasan investor menghindari emas hingga tahun 2021 adalah karena kesenangan bullish yang belum pernah terjadi sebelumnya di pasar ekuitas. S&P 500 melihat tahun ini pada rekor tertinggi, naik 27 persen untuk tahun ini.

USD/JPY melonjak ke 115,304. AUD/USD alami penurunan hingga ke 0,72436. Pasangan GBP/USD juga melemah ke 1,34979. EUR/USD melonjak ke 1.13365.