Nilai Tukar Rupiah Juaranya; Nilai Dollar AS Anjlok!

Nilai tukar rupiah hari ini menguat dan membuat dolar AS babak belur di kisaran Rp14.400 pada akhir pekan, 3 Juni 2022. Rupiah is the king, sang Garuda perkasa signifikan tidak hanya terhadap dolar AS, tetapi juga mata uang dunia. 

Mata uang Asia pagi ini disapu bersih oleh rupiah. Menjadi mata uang nomor satu Asia, rupiah perkasa melawan dolar Singapura (1,36%), dolar Hong Kong (1,34%), ringgit (1,32%), yen (1,27%), baht (1,22%), dolar Taiwan (1,14%), yuan (0,68%), dan won (0,66%).

Melansir RTI, rupiah terapresiasi 1,29% ke level Rp14.425 per dolar AS pada Jumat pagi. Rupiah hari ini juga unggul terhadap dolar Australia (1,38%), euro (1,21%), dan poundsterling (1,32%).

Pada saat yang sama, dolar AS tertekan di hadapan mata uang Asia. Selain rupiah, mata uang Asia yang unggul terhadap dolar AS meliputi dolar Taiwan, baht, won, yen, dan yuan.

Indeks Dolar AS Yang Mengukur Greenback Terhadap Sejumlah Mata Uang Lainnya Naik Tipis 0,04% ke 102,34

Dolar AS naik tipis pada Kamis di Asia, mencapai level tertinggi tiga minggu terhadap yen di awal perdagangan Asia. Mata uang AS masih menguat dan didukung oleh kenaikan imbal hasil Treasury AS, yang mencapai level tertinggi dua minggu semalam.

Indeks Dolar AS yang mengukur greenback terhadap sejumlah mata uang lainnya naik tipis 0,04% ke 102,34.

Pasangan USD/JPY  turun tipis 0,06% di 130,04. Rupiah terus menguat 0,63% ke 14.487,5 per dolar AS.

Dolar AS sempat naik ke 130,23 per yen, level tertinggi 11 Mei dan melanjutkan kenaikan 1,1% pada Rabu. Dolar AS juga kembali menuju ke level tertinggi 20 tahun di 131,34 yang dicapai pada Mei.

Pasangan AUD/USD  juga turun tipis 0,15% di 0,7164 dan NZD/USD  turun tipis 0,04% di 0,6480.

Pasangan USD/CNY naik tipis 0,19% ke 6,6989 dan GBP/USD naik tipis 0,04% di 1,2487.

Euro diperdagangkan di $1,0654 setelah jatuh 0,81% ke level terendah 10 hari semalam.

Imbal hasil benchmark AS tenor 10 tahun mencapai level tertinggi dua minggu 2,951% pada hari Rabu, usai data menunjukkan aktivitas manufaktur AS meningkat pada Mei 2022 karena permintaan barang tetap kuat. indkes manajer pembelian (PMI) di 57 dan PMI manufaktur ISM tercatat 56,1.

Imbal hasil telah ada dalam tren naik saat Federal Reserve AS telah menaikkan suku bunga dengan cepat dalam upaya untuk mengendalikan inflasi dan menghindari resesi ekonomi.

Lowongan pekerjaan AS juga tetap pada tingkat yang tinggi, di mana indeks pekerjaan manufaktur Institute of Supply Management (ISM) mencapai 49,6 dan indeks lowongan pekerjaan JOLT sebanyak 11,4 juta.

Imbal hasil 10 tahun bergerak turun pada awal sesi Asia di kisaran 2,9145%.

Investor juga menunggu laporan pekerjaan AS hari Jumat, termasuk ketenagakerjaan nonpertanian. European Central Bank (ECB) akan mengadakan pertemuan kebijakan pada minggu depan, di mana diharapkan akan memberikan rincian lanjutan tentang rencana untuk kenaikan suku bunga.

Indeks Dolar AS Melanjutkan Pelemahannya Pada Akhir Perdagangan Awal Pekan

Indeks dollar AS melanjutkan pelemahannya pada akhir perdagangan awal pekan. Dolar melemah karena selera risiko di seluruh pasar sementara menguat, didukung oleh data ekonomi yang menggembirakan dan taruhan bahwa Federal Reserve akan memperketat kebijakan pada kecepatan yang lebih lambat.

Indeks dolar berada di jalur untuk penurunan lebih dari 1,5% pada Mei – meskipun tetap naik sekitar 6,0% pada tahun ini. Terakhir turun 0,3% hari ini di 101,440.

Data pada akhir pekan kemarin menunjukkan bahwa belanja konsumen AS naik lebih besar dari yang diharapkan pada April karena rumah tangga mendorong pembelian barang-barang dan jasa-jasa, dan kenaikan inflasi melambat.

Para analis mengatakan data yang menggembirakan, ditambah dengan taruhan pada jalur pengetatan yang lebih hati-hati oleh The Fed, melemahkan dolar.

Perdagangan kemungkinan akan ringan karena pasar saham dan obligasi AS tutup untuk libur umum Memorial Day.

Pasar saham dunia naik pada awal pekan ini, karena pelonggaran pembatasan COVID-19 dan stimulus baru di China membantu mempertahankan rebound minggu lalu.

Yuan China yang diperdagangkan di luar negeri menguat sebanyak satu% terhadap dolar di tengah berita pembukaan kembali pembatasan Covid-19, dan terakhir naik 0,7% pada 6,6771 yuan per dolar.

Data inflasi dari Jerman dan Spanyol pada awal pekan menunjukkan kenaikan harga-harga mengalami percepatan pada Mei, didorong oleh melonjaknya harga energi, menjelang angka inflasi zona euro pada Selasa waktu setempat.

Sejumlah data ekonomi lebih lanjut akan dirilis minggu ini yang dapat memberikan petunjuk tentang prospek pertumbuhan global, termasuk angka pekerjaan AS dan angka Indeks Manajer Pembelian (PMI) China.

Angka inflasi membantu membatasi kenaikan euro, dengan mata uang tunggal naik 0,3% pada 1,07700 dolar AS, setelah sebelumnya mencapai tertinggi bulanan di 1,07810 dolar AS.

Mata uang safe-haven yen turun kembali 0,5% menjadi 127,715 yen per dolar. Sterling naik tipis 0,1% menjadi 1,26405 dolar AS.

Kinerja Dolar AS Yang Tidak Bisa Mempertahankan di Atas Harga 102,00 Akhirnya Berangsur Membawanya Turun Sampai Ke Harga 101,70.

Mengawali hari di bulan baru Juni ini, pegerakan indeks dolar AS yang masih lesu untuk sesi Asia ini. Setelah sebelumnya dihantam penurunan tajam.

Berawal dari pernyataan Presiden Amerika Serikat, Joe Biden setelah bertatap muka dengan petinggi bank sentral AS Jerome Powell. Dalam pertemuan tersebut ada bahasan tentang penerapan Langkah-langkah kuantitatif melawan inflasi yang terjadi.

Kinerja Dolar AS yang tidak bisa mempertahankan di atas harga 102,00 akhirnya berangsur membawanya turun sampai ke harga 101,70.

Walaupun dalam diskusi tersebut tidak menghasilkan suatu sinyal yang potensial, namun dalam penegasannya kedua orang petinggi tersebut masih bersusah payah melawan kenaikan dari tekanan harga.

Hari ini fokus para pelaku pasar menantikan laporan dari Indeks Manajer Pembelian (IMP) Manufaktur ISM. Dimana dalam perkiraan para ekonom, laporan bakal buruk dibandingkan dengan laporan bulan sebelumnya. Ada di angka 54,5 untuk estimasinya, dibandingkan 55,4 pada bulan sebelumnya.

Ketakutan terhadap inflasi sangat nyata dan perlu ditangai dengan tegas lebih dini.

Christopher Waller, petinggi The Fed juga mengatakan mendukung kenaikan suku bunga 50 bps sampai mendapatkan pengurangan di dalam tingkat inflasi.

Dolar AS Sedikit Anjlok, Menyebabkan Turunnya Kepercayaan Pasar Terhadap The Fed

Pergerakan dari dolar AS kini kembali melemah di akhir pekan kemarin. Pelemahan USD ini disebabkan bahwa beberapa spekulan menyebutkan bahwa bank sentral AS kemungkinan akan memperlambat atau menghentikan sementara keputusan kenaikan suku bunga. Setelah rencana sebelumnya pada pertengahan tahun ini.

Dalam rapat the Fed, dimana menjelaskan bahwa beberapa peserta rapat anggap keputusan menaikkan lagi suku bunga 50 basis poin pada pertengahan tahun ini layak. Harapannya untuk memerangi inflasi yang membuat perekonomian masih runyam.

Dalam penutupan hari kemarin, pergerakan indes dolar uang mengukur kekuatan dari mata uang negara AS tersebut turun 0,28%. Penurunan melawan mata uang mayor ini bergerak ke kisaran 101.77 berada di penutupan.

Diketahui sebelumnya kenaikan pada Greenback menyentuh tingkat tertingginya dalam dua dekade di harga 105. Akan tetapi saat ini para pelaku pasar melihat ada perlambatan pada langkah the Fed. Mereka sedikit percaya kalau nantinya the Fed bakal memperlambat keputusan kenaikan suku bunga. Bukan lagi di pertengahan tahun ini. 

Data ekonomi AS yang baru saja di rilis, seperti tingkat PDB (preliminary GDP) berada di tingkat -1,5% turun dari data yang dilaporkan sebelumnya di 1,4%. Menegaskan bahwa perekonomian AS mengalami kontraksi di kuartal pertama tahun ini.

Ada pendapat dari Ed Moya, seorang analis dari Oanda, sebutkan bahwa kini para pelaku pasar beranggapan kalau bank sentral AS tidak terlalu agresif untuk jangka pendek ini.

Dolar AS Melemah Pada Akhir Pekan di Asia

Dolar AS melemah pada akhir pekan di Asia. Mata uang AS jatuh ke level terendah satu bulan, dengan investor menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve AS dan tanda-tanda bahwa bank sentral dapat memperlambat atau bahkan menghentikan siklus pengetatannya pada paruh kedua tahun 2022.

Pasangan USD/JPY turun 0,22% menjadi 126,86. USD/IDR terus naik 0,37% di 14.576,0 per dolar AS.

Indeks Dolar AS yang mengukur greenback terhadap sejumlah mata uang lainnya turun 0,34% ke 101,32.

Greenback mencapai level tertinggi hampir dua dekade di atas 105 pada pertengahan bulan tetapi turun di tengah tanda-tanda bahwa pengetatan kebijakan moneter Fed sudah bisa memperlambat pertumbuhan ekonomi. Imbal hasil Treasury AS juga turun dari level tertinggi multi tahun, yang selanjutnya melemahkan dolar.

Pasangan AUD/USD naik 0,63% di 0,7143 dan NZD/USD naik 0,70% di 0,6522.

Pasangan USD/CNY turun tipis 0,08% ke 6,7335 dan GBP/USD naik 0,48% menjadi 1,2655.

Indeks dolar AS turun ke 101,43 untuk pertama kalinya sejak 25 April 2022, dan akan mengalami penurunan 1,5% untuk minggu ini, setelah turun sekitar 1,37% minggu lalu. Ini akan menjadi penurunan dua minggu pertama sejak pergantian tahun. Reli hari Jumat untuk saham-saham Asia Pasifik juga membuat investor mundur dari dolar safe haven.

Mata uang AS juga jatuh terhadap euro ke level terlemah sejak 25 April di $1. 0765. Dolar juga jatuh ke level terendah terhadap pound sejak 26 April 2022.

Kerugian dolar adalah keuntungan mata uang Antipodean yang sensitif terhadap risiko, di mana dolar Australia dan Selandia Baru keduanya dalam tren naik.

Dalam cryptocurrency, sentimen risiko yang lebih baik tidak membantu bitcoin, yang turun 0,9% ke sekitar $28.908 dan melanjutkan penurunan bertahap minggu ini dari $30.000.

Dolar AS melemah terhadap yen, jatuh bertahap selama tiga minggu dari level tertinggi dua dekade di 131,35.

Risalah dari pertemuan terbaru The Fed, yang dirilis awal pekan ini, menunjukkan sebagian besar peserta percaya kenaikan 50 basis poin akan sesuai pada pertemuan kebijakan Juni dan Juli 2022. Namun, banyak pengambil kebijakan berpikir besar, kenaikan suku bunga awal akan memberikan ruang untuk jeda nanti pada tahun 2022 untuk menilai dampak dari pengetatan kebijakan tersebut.

Dolar dan Euro Melonjak Bersamaan di Kamis Pagi

Kamis (17/02) pagi di Asia, dolar AS naik bersama dengan mata uang euro. Investor mencerna keraguan AS bahwa Rusia telah menarik pasukannya di perbatasan dengan Ukraina sehingga kekhawatiran atas invasi masih sangat hidup.

Indeks dolar AS yang mengukur greenback terhadap sejumlah mata uang lainnya naik tipis 0,09% menjadi 95,783.

USD/JPY naik tipis ke 115,48. Rupiah bergerak melemah ke 14.284,1 per dolar AS.

Indeks dolar AS turun sekitar 0,2% setelah risalah ke 95,769 dan tetap dekat dengan level ini pada hari Kamis. Namun, indeks mungkin bisa meluncur sedikit lebih rendah menuju 95, menurut Gao.

Australia merilis data ketenagakerjaan sebelumnya yang menunjukkan perubbahan tenaga kerja sebanyak 12.900 dan  perubahan lapangan kerja penuh sebesar -17.000. Namun, data tersebut tidak cukup untuk mengangkat dolar Australia melewati resistance di sekitar $0,7210.

Dolar Selandia Baru juga menjadi fokus. Reserve Bank of New Zealand diperkirakan akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin ketika mengumumkan keputusan kebijakannya pada 23 Februari.

AUD/USD menguat 0,24% di 0,7208. NZD/USD terus naik ke 0,6697.

USD/CNY turun tipis menjadi 6,3328, sedangkan GBP/USD sedikit naik menjadi 1,3591.

EUR/USD naik di 1,1378. Mata uang ini telah menguat, di samping saham global, usai Rusia mengisyaratkan mundurnya pasukan militer, langkah maju dalam krisis regional selama beberapa dekade. Namun, AS mengatakan pada hari Rabu bahwa pernyataan Rusia itu salah.

Ekspektasi bahwa Bank of England juga akan menaikkan suku bunga pada Maret 2022 menahan kenaikan pound. Gubernur Bank of Spain Pablo Hernández de Cos dan kepala ekonom European Central Bank (ECB) Philip Lane akan berbicara hari ini di mana kedua pidato tokoh tersebut akan diawasi dengan cermat untuk mendapatkan petunjuk tentang prospek ECB.

Di AS, Presiden Federal Reserve Bank of St. Louis James Bullard juga akan menyampaikan pandangannya sesi hari ini.

Dolar Naik, Investor Cerna Laporan dari Rusia

Rabu (16/02) pagi di Asia, dolar mengalami kenaikan, sementara euro mempertahankan kenaikan semalam di awal perdagangan Asia Pasifik. Investor juga mencerna laporan bahwa Rusia dapat memindahkan pasukannya dari perbatasan Ukraina, di samping pengumuman data ekonomi terbaru dari China.

Pasangan USD/CNY naik tipis 0,01% menjadi 6,3405. Data China yang dirilis sebelumnya menunjukkan indeks harga konsumen China tumbuh 0,9% tahun ke tahun dan 0,4% bulan ke bulan di Januari, sementara indeks harga produsen naik 9,1% tahun ke tahun.

GBP/USD naik tipis 0,07% di 1,3543.

Namun, beberapa investor optimis bahwa kerugian dolar akan dibatasi.

Federal Reserve AS diperkirakan akan menaikkan suku bunga pada pertemuan Maret 2022, dengan beberapa kenaikan lagi kemungkinan akan mengikuti sepanjang tahun.

Investor sekarang menunggu risalah dari pertemuan Fed dini hari nanti, yang dapat memengaruhi pergerakan dolar dan bunga obligasi AS.

Pasangan USD/JPY melonjak tipis di 96,033. Rupiah terus menguat 0,10% di 14.285,0 per dolar AS.

Pasangan AUD/USD naik tipis ke 0,7154 dan NZD/USD turun tipis 0,02% ke 0,6637.

Perdebatan di kalangan petinggi Fed mengenai seberapa agresif bank sentral harus menaikkan suku bunga juga berlanjut. Presiden Fed St. Louis James Bullard pada hari Senin mengulangi seruannya untuk mempercepat laju kenaikan suku bunga Fed, tetapi beberapa rekannya kurang tertarik untuk berkomitmen atas kenaikan setengah poin persentase atau bahkan khawatir hal itu dapat menyebabkan masalah.

Di seberang Atlantik, Bank of England dapat menaikkan suku bunganya sendiri sebesar 25 basis poin lagi pada pertemuan Maret, menurut jajak pendapat ekonom Reuters. Bank sentral itu terakhir menaikkan suku bunga pada tiga pertemuan berturut-turut di tahun 1997 silam.

Kementerian Pertahanan Rusia pada hari Selasa menerbitkan rekaman yang menunjukkan bahwa pihaknya menarik beberapa pasukan dari perbatasan dengan Ukraina setelah menggelar latihan. Namun, Presiden AS Joe Biden mengatakan bahwa AS belum memverifikasi langkah itu, sementara Ukraina melaporkan serangan siber pada jaringan daring Kementerian Pertahanan dan dua bank hanya terjadi beberapa jam setelah pengumuman Rusia.

EUR/USD turun tipis 0,07% ke 1,1348 pada Rabu pagi, setelah naik 0,45% sehari sebelumnya, sementara saham global rebound dipicu ekspektasi kemungkinan penarikan pasukan Rusia.

Dolar AS Awali Pekan dengan Penurunan Harga

Dolar AS bergerak melemah pada awal pekan, tetapi mengalami kerugian minimal. Investor juga masih khawatir terhadap potensi konflik di Eropa Timur, di samping lonjakan inflasi.

Senin (14/02), indeks dolar AS yang mengukur greenback terhadap sejumlah mata uang lainnya turun tipis 0,04% di 96,033.

Meningkatnya kekhawatiran atas invasi Rusia ke Ukraina membuat euro turun ke 1,1360 dolar dari level tertinggi minggu lalu di 1,1495 dolar. Dolar Australia dan Selandia Baru yang lebih berisiko juga tetap di bawah level minggu sebelumnya, dan rubel Rusia mengalami penurunan paling besar dalam hampir dua tahun pada hari Jumat.

USD/CNY naik tipis 0,1% menjadi 6,3612 sedangkan GBP/USD turun tipis ke 1,3542.

AS membunyikan alarm pada hari Minggu bahwa Rusia dapat membuat dalih mengejutkan untuk menyerang negara tetangganya, yang telah dibantah Rusia. Kanselir Jerman Olaf Scholz akan menuju ke Ukraina di kemudian hari, diikuti dengan perjalanan ke Moskow lusa, dan memperingatkan adanya sanksi jika serangan terjadi.

Ketegangan ini adalah kejutan terbaru bagi pasar yang sudah goyah dari data inflasi AS yang tinggu minggu lalu. Meskipun kekhawatiran atas kenaikan suku bunga darurat agak mereda, beberapa investor memperkirakan dolar akan tetap didukung.

USD/JPY melemah tipis 0,01% menjadi 115,40. Rupiah naik tipis 0,05% ke 14.342,6 per dolar AS.

AUD/USD melemah 0,19% ke 0,7122. Data pekerjaan Australia akan dirilis pada hari Kamis dan kemungkinan angka yang mengejutkan bisa mendorong pengukur volatilitas dolar Australia ke level tertinggi hampir satu tahun. Pasangan NZD/USD juga turun 0,32% di 0,6627.

Dolar stabil di awal sesi, dengan euro, yang turun 1,2% pada yen pada hari Jumat, dan mata uang negara importir minyak dipandang sebagai yang paling berisiko dari konflik di Ukraina.

Presiden European Central Bank (ECB) Christine Lagarde akan berpidato di depan Parlemen Eropa, dan Presiden Federal Reserve Bank of St. Louis James Bullard juga akan berbicara kepada media, selanjutnya.

Pound stabil, lantaran investor yakin Bank of England akan menaikkan suku bunganya sendiri pada Maret 2022 dan memperkirakan peluang sekitar 40% untuk kenaikan 50 basis poin.

Di seberang Atlantik, The Fed akan merilis risalah dari pertemuan terakhirnya pada hari Rabu setempat. Sentimen minggu lalu tentang kenaikan suku bunga antar-pertemuan sedikit surut setelah Fed merilis jadwal pembelian obligasinya tidak berubah untuk bulan mendatang. Bank sentral tersebut akan menaikkan suku bunga hanya setelah pembeliannya berhenti.

Akhiri Pekan, Indeks Dolar AS Alami Kenaikan

Jumat (11/02) pagi di Asia, Dolar Amerika Serikat naik. Data inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan dan komentar hawkish dari pengambil kebijakan Federal Reserve mempercepat ekspektasi kenaikan suku bunga agresif. Namun, tekanan serupa secara global membatasi kenaikan.

Data inflasi AS menunjukkan indeks harga konsumen (IHK) tumbuh sebesar 7,5% tahun ke tahun. Angka itu juga mendorong Presiden Fed St. Louis James Bullard mengatakan bahwa Fed harus menaikkan suku bunga sebesar 100 basis poin selama tiga pertemuan berikutnya.

Indeks dolar AS yang mengukur greenback terhadap sejumlah mata uang lainnya terus naik di 95,891. AUD/USD melemah di 0,7138 dan NZD/USD turun 0,25% menjadi 0,6653. Pasangan USD/CNY naik tipis ke 6,3611 sedangkan GBP/USD turun menjadi 1,3541.

Sementara itu, Bank of Japan juga berkomitmen untuk membeli obligasi tenor 10 tahun dalam jumlah tidak terbatas sebesar 0,25% pada hari Kamis, sebagai tanggapan atas tekanan jual  beberapa hari di pasar obligasi Jepang.

USD/JPY naik tipis ke 116,08, tapi pasar Jepang ditutup libur. Rupiah turun tipis di 14.352,6 per dolar.

Dolar Australia akan mencapai kenaikan mingguan hampir 1% meskipun dolar menguat pada hari Jumat, sementara dolar Selandia Baru juga menuju kenaikan mingguan kedua berturut-turut.

Treasuries AS naik dan dolar naik ke level tertinggi lima minggu terhadap yen selama sesi bergejolak semalam. Mata uang AS juga bergejolak terhadap mata uang lainnya, sebelum menguat luas di awal sesi Asia.

ECB akan memperbarui proyeksi ekonominya pada Maret 2022, di mana pasar obligasi mengharapkan perubahan yang lebih hawkish. Penetapan harga swap juga menunjukkan kemungkinan hampir 30% Bank of England akan menaikkan suku bunga sebesar 50 bps bulan depan.

Bahkan bank sentral yang berpegang pada pendekatan yang lebih dovish, seperti Reserve Bank of Australia (RBA), mengubah nada kebijakannya. Gubernur RBA Philip Lowe mengatakan sebelumnya bahwa jika pemulihan ekonomi mencapai perkiraan, kenaikan suku bunga berpotensi terjadi pada tahun 2022.