Emas Alami Kenaikan Akibat Ketegangan Geopolitik Ukraina

Emas mengalami kenaikan tinggi lebih dari 1 persen, setelah penurunan dolar dan ketegangan geopolitik seputar Ukraina kembali meningkatkan daya tarik logam mulia tersebut.

Kamis (20/01) harga emas di pasar spot mengalami kenaikan sebesar 1,5 persen menjadi 1.840,92 USD per ounce, sementara emas berjangka Amerika Serikat ditutup melambung 1,7 persen menjadi 1.843,21 USD per ounce.

Ekspektasi bahwa The Fed akan memperketat kebijakan moneter secepatnya Maret telah membebani emas tahun ini karena suku bunga yang lebih tinggi meningkatkan opportunity cost memegang logam kuning.

Rusia dapat meluncurkan serangan baru ke Ukraina dalam waktu yang sangat singkat, tetapi Washington akan melakukan diplomasi sebisa mungkin.

Paladium naik sebesar 7 persen, dengan Citi Research mengatakan pemulihan bertahap dalam output otomotif global dapat mendukung permintaan logam auto-catalyst tersebut pada tahun ini. Terakhir, paladium melonjak 5,7 persen menjadi 2.006,22 USD per ounce.

Kejatuhan dolar membuat emas lebih murah bagi pembeli yang memegang mata uang lainnya, sementara penurunan imbal hasil obligasi AS 10-tahun dari level tertinggi dua tahun juga mendorong permintaan untuk logam tersebut.

Logam kuning juga diuntungkan dari daya tariknya sebagai lindung nilai terhadap inflasi karena harga minyak meroket ke level tertinggi sejak 2014, memicu kekhawatiran bahwa tekanan harga dapat meningkat.

Logam mulia lainnya, platinum melonjak 4,4 persen menjadi 1.025,50 USD per ounce dan perak spot melesat 2,7 persen menjadi 24,07 USD per ounce.Sementara itu, AUD/USD naik 0,5 persen menjadi 0,7225. USD/JPY naik ke 114.51. EUR/USD menguat 0,2 persen pada 1,1348 dolar AS, setelah mencatat penurunan harian tertajam hari sebelumnya dalam sebulan. Mata uang tunggal Eropa didukung secara keseluruhan setelah imbal hasil obligasi 10-tahun.
GBP/USD naik 0,2 persen menjadi 1,3624 dolar AS. Pound juga didukung oleh lonjakan imbal hasil Inggris, dengan imbal hasil surat utang dua tahun naik menjadi 0,958 persen, level tertinggi sejak Maret 2018. 

Emas Sedang Kurang Menarik Bagi Investor karena Indeks dolar AS Membukukan Kenaikan Harian Terbaiknya

Emas bergerak stabil pada Rabu (19/01). Harga tetap datar di dekat level terendah dalam satu minggu yang dicetak di sesi sebelumnya, karena imbal hasil US Treasury naik ke level tertinggi dalam dua tahun, di tengah ekspektasi kenaikan suku bunga yang lebih cepat oleh Federal Reserve. 

Harga emas spot sedikit berubah ke 1.813,04 USD per ons troi, setelah jatuh ke level terendah satu minggu di 1.805 USD per ons troi satu hari lalu.

Sementara itu, harga emas berjangka untuk kontrak pengiriman Februari 2022 stabil di 1.813,30 USD per ons troi. 

Imbal hasil US Treasury acuan melonjak ke level tertinggi dua tahun pada hari Selasa, karena para investor bersiap menyambut The Fed agar lebih agresif dalam mengatasi inflasi yang tidak mereda. The Fed sendiri akan mengadakan pertemuan pada 25-26 Januari mendatang.

Emas yang dianggap sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, tetapi juga sangat sensitif terhadap kenaikan suku bunga AS, yang meningkatkan biaya peluang memegang emas batangan tanpa bunga. 

Di sisi lain, indeks dolar AS juga membukukan kenaikan harian terbaiknya dalam empat minggu pada hari sesi sebelumnya dan naik ke level tertinggi dalam satu minggu. Ini membuat emas yang diperdagangkan kurang menarik bagi pembeli luar negeri. 

Inflasi zona Eropa juga diperkirakan akan lebih tinggi sepanjang 2022 dari yang diperkirakan sebulan lalu. Ini dapat menekan European Central Bank untuk memperketat kebijakan begitu gelombang pandemi Omicron berlalu. 

AUD/USD naik tipis 0,06% ke 0,7187. Data Australia menunjukkan indeks Sentimen Konsumen Westpac berkontraksi sebesar 2% pada Januari, dibandingkan dengan kontraksi 1% dari bulan sebelumnya.

Pasangan USD/CNY stabil di 6,3531. Pasangan GBP/USD naik tipis  menjadi 1,3597, sebelum Inggris merilis angka indeks harga konsumen dan produsen terbaru hari ini.

Pasangan NZD/USD naik tipis menjadi 0,6782, setelah penjualan ritel kartu elektronik Selandia Baru tumbuh 0,4% bulan ke bulan dan 4,2% tahun ke tahun pada Desember 2021.

USD/JPY naik tipis ke 114,62. Pergerakan di pasar obligasi AS meresahkan investor ekuitas dan menopang yen safe haven. Bank of Japan menaikkan perkiraan inflasi, tetapi mengatakan tidak terburu-buru untuk mengubah kebijakan moneter ultra-longgar yang selama ini diterapkannya. 

Harga minyak naik ke level tertinggi sejak 2014 karena investor khawatir tentang ketegangan politik global memperburuk prospek pasokan yang sudah ketat.

Emas Bertahan pada Alur Naiknya

Selasa (18/01) harga emas di pasar spot naik 0,1 persen menjadi 1.819,42 USD per ounce, sementara emas berjangka Amerika juga naik tipis 0,1 persen menjadi 1.818,81 USD per ounce.

Kebijakan moneter yang ketat diperkirakan dapat berdampak negatif pada emas, tetapi meski demikian emas bertahan dengan sangat baik. 

Meski dianggap sebagai lindung nilai inflasi, emas sangat sensitif terhadap kenaikan suku bunga Amerika, karena meningkatkan  opportunity cost memegang logam kuning yang tidak memberikan imbal hasil.

Imbal hasil US Treasury 10-tahun mencapai level tertinggi dua tahun minggu lalu di tengah ekspektasi untuk suku bunga yang lebih tinggi.

Kini, fokus tertuju pada pertemuan Federal Reserve, 25-26 Januari, setelah pembuat kebijakan mengisyaratkan mereka akan mulai menaikkan suku bunga pada Maret untuk menjinakkan inflasi.

Sementara itu harga logam lainnya perak naik 0,1 persen menjadi 22,98 USD per ounce, platinum menguat 0,4 persen menjadi 974,31 USD per ounce dan paladium meningkat menjadi 1.887,18 USD per ounce. 

Di sisi lain, USD/JPY naik tipis 0,12% ke 114,72. Bank of Japan mengumumkan keputusan kebijakan sebelumnya, dengan tingkat suku bunga diperkirakan akan tetap stabil sebesar –0,10%.

EUR/USD melemah ke 1.1395. AUD/USD naik 0,17% menjadi 0,7223. GBP/USD naik tipis 0,11% menjadi 1,3659. 

Sementara itu, ekspektasi bahwa Bank of England akan menaikkan suku bunganya sendiri memberi dorongan pada pound. Setiap kelemahan dalam mata uang saat Perdana Menteri Boris Johnson menghadapi seruan untuk mengundurkan diri akan teratasi, menurut analis ING.

Dividen Mingguan 17 Jan 2022 – 21 Jan 2022

Untuk Para Nasabah,

Menurut data bursa, terdapat 2 saham yang melakukan pembayaran dividen, berikut rincian pembayarannya:

17 Jan – 21 Jan 2022
SahamKode Saham CFDTanggal KadaluarsaDividen Per SahamMata Uang
Caterpillar Inc.#CAT19 – Jan – 20221,11 USD
Procter & Gamble Co.#PG20 – Jan – 20220,87USD

* Dividen akan disetorkan ke akun trading saat klien memegang posisi long (beli) dan akan dipotong dari akun trading jika klien memegang posisi short (jual).

* Dividen akan dihitung pada akhir tanggal perdagangan sebelum Tanggal Kadaluwarsa

* Produk saham CFD Jerman akan dihitung dalam USD sesuai dengan nilai tukar EURUSD pasar saat ini.

* Produk saham CFD Hong Kong akan dihitung dalam USD sesuai dengan nilai tukar USDHKD pasar saat ini.

Harap diperhatikan: Informasi yang dipublikasikan di atas adalah benar pada saat dipublikasikan dan dapat mengalami pembaruan dan perubahan tanpa pemberitahuan.

Emas Bergerak Melemah Awali Pekan

Senin (17/1), emas bergerak menurun. Meskipun begitu, prospek logam mulia ini terlihat membaik sepanjang pekan ketiga tahun 2022. 

Emas berjangka untuk kontrak Februari 2022 terpantau melemah 0,14 persen atau 2,60 poin ke level 1.813,90 USD per troy ounce. Sementara itu, harga emas di pasar spot terpantau melemah 0,17 persen atau 3,03 poin ke level 1.814,91 USD per troy ounce.

Emas berjangka pekan lalu diperdagangkan pada 1.816,90 USD, naik lebih dari 1 persen sepanjang pekan. Dua data utama AS, data inflasi dan penjualan ritel, menjaga pasar dalam suasana risk-off. inflasi berjalan pada laju terpanas sejak 1982 pada bulan Desember, naik 7 persen.

Meskipun melemah, analis memperkirakan prospek harga emas mulai membaik pekan ini menyusul konsekuensi dari potensi kealahan kebijakan moneter karena Federal Reserve menjadi lebih hawkish di tengah data inflasi terbaru.

Ancaman inflasi mendorong harga emas lebih tinggi karena investor memperkirakan tekanan harga akan terus meningkat. 

Sementara itu, penjualan ritel turun 1,9 persen, laju penurunan terbesar dalam sepuluh bulan. Dua pendorong besar untuk emas ke depan adalah dolar AS dan imbal hasil obligasi. Dolar telah mundur, memberikan ruang bernafas untuk emas, sementara imbal hasil obligasi baru saja menghentikan kenaikan mereka.

Harga emas dan imbal hasil obligasi diprediksi akan menjadi pendorong besar terhadap harga emas ke depannya.

AUD/USD turun menjadi 0,7223. JPY/USD mengalami penurunan ke 115,45. EUR/USD juga melemah ke 1.14898. GBP/USD melonjak sedikit menjadi 1,3731. 

Emas Melemah di Akhir Pekan

Harga emas pada Jumat (14/01) melemah karena investor bereaksi terhadap indeks harga produsen AS yang lebih rendah dari perkiraan. 

Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Februari tercatat turun 5,9 dolar AS, atau setara dengan 0,32 persen, menjadi ditutup pada 1.821,4 dolar AS per ounce. Data yang dirilis oleh Departemen Tenaga Kerja AS pada hari Kamis menunjukkan indeks harga produsen AS, juga harga grosir AS, naik hanya 0,2 persen pada Desember, kenaikan terkecil dalam 13 bulan.

Kenaikan juga turun di bawah perkiraan 0,4 persen oleh para ekonom. Ini adalah tanda meredanya tekanan inflasi dalam rantai pasokan AS Departemen Tenaga Kerja AS juga melaporkan bahwa klaim pengangguran awal AS meningkat 23.000 menjadi 230.000 dalam pekan yang berakhir B Januari, memberikan beberapa dukungan untuk emas.

Sementara itu harga perak untuk pengiriman Maret turun 4,5 sen, atau 0,19 pengiriman April turun 7,9 dolar, atau 0,81 persen.

AUD/USD turun 0,2% menjadi 0,7271. JPY/USD mengalami penurunan ke 113,70. EUR/USD mengalami kenaikan ke 1.15133. GBP/USD melonjak sedikit, yaitu 0,16% menjadi 1,3725 di waktu pagi. Keyakinan bahwa ekonomi Inggris dapat menahan penyebaran wabah COVID-19 terbaru dan Bank of England dapat menaikkan suku bunga mulai Februari 2022 telah menopang pound, meskipun krisis politik mengancam posisi Perdana Menteri Boris Johnson.

Lonjakan Pada Emas Terjadi Akibat Aksi Beli dari Investor

Kamis (13/01), emas alami lonjakan karena data yang menunjukkan inflasi Amerika berada dalam ekspektasi yang membuat dolar lemah dan mendorong aksi beli dari investor.

Emas di pasar spot naik 0,2 persen menjadi 1.825,84 USD per ounce memperpanjang penguatan setelah melesat ke level tertinggi sejak pertengahan Desember.

Kendati emas dianggap sebagai lindung nilai terhadap lonjakan inflasi, kenaikan suku bunga yang dihasilkannya diterjemahkan ke dalam peningkatan opportunity cost memegang logam kuning yang tidak memberikan imbal hasil.

Tetapi tekanan kenaikan inflasi kemungkinan akan membuat emas tetap didukung dalam beberapa minggu mendatang.

Sementara emas berjangka AS ditutup meningkat 0,5 persen menjadi 1.827,2 USD per ounce.

Dolar jatuh ke level terendah dua bulan setelah data menunjukkan inflasi Amerika mencatat kenaikan tahunan terbesar dalam hampir empat dekade, membuat emas lebih menarik bagi investor luar negeri. Imbal hasil US Treasury 10-tahun juga tergelincir.

USD/JPY melemah ke 114,41. AUD/USD alami kenaikan hingga ke 0,73121. Pasangan GBP/USD melonjak ke 1,37233. EUR/USD mengalami kenaikan ke 1.15123.

Sementara itu harga perak di pasar spot melesat 1,7 persen menjadi 23,16 USd per ounce, platinum naik 0,9 persen menjadi 979,38 USD per ounce, sementara paladium turun 0,5 persen menjadi 1.911,09 USD per ounce.

Emas Melonjak Usai Kesaksian Jerome Powell

Emas melonjak di Rabu (12/01) pagi di waktu Asia karena dolar melemah setelah kesaksian Chairman Federal Reserve Jerome Powell di depan Kongres tidak menimbulkan kejutan dalam hal pengetatan moneter.

Harga emas di pasar spot melesat 1 persen menjadi 1.819,58 USD per ounce. Sementara, emas berjangka AS ditutup melejit 1,1 persen menjadi USD1.818,50 per ounce.

Emas sering dilihat sebagai lindung nilai terhadap inflasi, tetapi bullion sangat sensitif terhadap kenaikan suku bunga AS, karena ini meningkatkan opportunity cost untuk menahannya.

Harga emas menguat karena reli imbal hasil obligasi terhenti ketika Chairman Powell mengisyaratkan The Fed kemungkinan akan mulai menormalkan kebijakan tahun ini.

Powell mencatat bahwa pembuat kebijakan masih memperdebatkan pendekatan untuk mengurangi balance sheet The Fed dan mengatakan inflasi berjalan sangat jauh di atas target dan dibutuhkan waktu yang panjang untuk menerapkan kebijakan yang restriktif.

Mengikuti pernyataan Powell, dolar turun 0,4 persen terhadap sekeranjang pesaingnya, sementara imbal hasil US Treasury 10-tahun mundur dari level tertinggi baru-baru ini.

Fokus kini bergeser ke data IHK inti Amerika, dirilis Rabu, yang diperkirakan meningkat 5,4 persen secara tahunan pada Desember dari 4,9 persen di bulan sebelumnya.

Peter Mooses, analis RJO Futures, mengatakan ketidakpastian ekonomi terkait dengan pandemi dan volatilitas di pasar yang lebih luas juga tampaknya membantu safe-haven emas.

Sementara itu harga logam lainnya perak melonjak 1,3 persen menjadi 22,76 USD per ounce, platinum melambung 3,3 persen menjadi 971,12 USD per ounce dan paladium naik 0,3 persen menjadi 1.917,37 USD per ounce.

USD/JPY naik ke 115,39. AUD/USD alami kenaikan hingga ke 0,72311. Pasangan GBP/USD melonjak ke 1,36125. EUR/USD mengalami kenaikan ke 1.14112.

Terbebani Penguatan Dolar, Emas Anjlok

Emas melemah karena terbebani penguatan dolar dan imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS) yang meningkat.

Selasa (11/01) emas di pasar spot turun 0,2 persen menjadi 1.799,76 USD per ounce setelah mencapai level terendah tiga minggu pada sesi akhir pekan lalu. Sementara, emas berjangka Amerika Serikat ditutup naik 0,1 persen menjadi 1.798,80 USD per ounce.

Sentimen pada emas adalah buy-and-hold, dengan harga menetap di kisaran 1.800 USD.

Imbal hasil obligasi AS 10-tahun melesat ke level tertinggi dalam dua tahun, karena dolar naik di tengah spekulasi inflasi Amerika akan mendukung kasus untuk suku bunga yang lebih tinggi.

Investor sekarang menunggu data inflasi yang akan dirilis esok hari. IHK inti AS diperkirakan meningkat ke level tertinggi dalam beberapa dekade di 5,4 persen pada Desember, naik dari 4,9 persen pada bulan sebelumnya.

Harga emas global berpeluang tertekan seiring dengan rencana Federal Reserve mulai menaikkan suku bunga pada Maret 2022, yang menguatkan dolar AS. 

Pasar saham jatuh, Senin, karena spekulasi Federal Reserve dapat menaikkan suku bunga secepatnya Maret membuat investor mengurangi aset berisiko.

Harga perak di pasar spot naik 0,5 persen menjad 22,41 USD per ounce, sedangkan paladium merosot 1,3 persen menjadi 1.908,83 USD per ounce. Platinum anjlok 2 persen menjadi 936,26 USD per ounce.

USD/JPY menurun ke 115,24. AUD/USD alami kenaikan hingga ke 0,71908. Pasangan GBP/USD melonjak ke 1,35965. EUR/USD mengalami kenaikan ke 1.13410.

Investor Harapkan Logam Mulia Berjaya di 2022

Pada tahun 2022 ini, investor pasar berharap logam mulia tersebut bisa kembali berjaya. Gerak harga emas dan perak di 2021 membuat pelaku pasar kecewa. 

Senin (10/01), emas melemah 3,6 persen. Perak juga mengalami penurunan sebesar 11,5 persen.

Investor ritel berharap bahwa tren bearish harga emas telah mencapai puncaknya. Sebagian belaku pasar melihat bahwa emas dan perak sebagai dua pilihan teratas untuk investasi di 2022.

Kedua logam mulia tersebut gagal mendapatkan daya tarik sepanjang tahun lalu meskipun dalam narasi inflasi diperkirakan bakal melonjak didorong oleh pemulihan ekonomi yang kuat dan pandangan The Federal Reserve yang lebih agresif.

Emas berada dalam posisi yang baik untuk reli seiring dengan kenaikan suku bunga. Sementara perak memiliki peluang untuk mengejar setelah tertinggal dari emas selama berbulan-bulan.

Setelah menghadapi banyak hambatan di 2021, emas diprediksi akan sampai ke titik yang lebih tinggi pada 2022.

Meskipun logam mulia diprediksi akan bisa bergerak lebih tinggi pada 2022, tren harga yang lebih kuat mungkin membutuhkan waktu. USD/JPY menurun tipis ke 115,840. AUD/USD alami kenaikan hingga ke 0,71619. Pasangan GBP/USD stabil di 1,35395. EUR/USD mengalami kenaikan ke 1.12922.