Naik Lagi, Emas Terpengaruh Penurunan Indeks Sentimen Konsumen

Perdagangan emas berjangka di divisi COMEX New York Mercantile Exchange naik pada hari Jumat. Hal ini terjadi setelah ada laporan bahwa indeks sentimen konsumen turun.

Dirilis oleh University of Michigan, perkiraan awal indeks sentimen konsumen berada di 70,2 pada Agustus, turun sebanyak 11 pada Juli.

Kenaikan harga terjadi pada kontrak emas paling aktif di pengiriman Desember naik sebesar 1,51 persen atau setara 26,4 dolar, menjadi ditutup pada 1.778,2 dolar AS per ons. Emas naik 0,8 persen di minggu ini.

Para investor was-was dengan ketidakpastian kekuatan rebound ekonomi global karena penyebaran COVID-19 varian delta.

Namun, terjadi sebaliknya pada perak untuk pengiriman September, harga naik 2,87 persen ekuivalen dengan 66,3 sen. Lalu, ditutup pada 23,779 dolar AS per ons. Terjadi pula kenaikan pada platinum untuk pengiriman Oktober sebanyak 8,3 dolar atau 0,82 persen dan menjadi ditutup di 1.026 dolar per ons.

Sempat Naik, Harga Emas Merosot Akibat IHP AS

Harga emas di perdagangan berjangka Divisi COMEX New York Mercantile Exchange kembali merosot pada penutupan perdagangan di hari Kamis setelah sempat naik sebelumnya. Hal ini terjadi kerena Indeks Harga Produsen (IHP) mencatat kenaikan tahunan.

Dilaporkan oleh Departemen Tenaga Kerja AS pada hari Kamis, IHP naik satu persen di bulan Juli. Sesuai harapan, laporan selanjutnya mengatakan bahwa pada Kamis untuk 7 Agustus, klaim pengangguran awal AS setara dengan 375.000.

Kontrak harga emas teraktif untuk pengiriman Desember turun 1,5 dolar AS ekuivalen 0,09 persen dan menjadi ditutup pada 1.751,8 dolar AS per ons. Begitu pula untuk perak pengiriman September, terjadi penurunan 37,2 sen atau setara 1,58 persen. Kemudian, menjadi ditutup pada 23.116 dolar AS per ons.

Berbeda dengan platina untuk pengiriman Oktober yang meningkat 0,21 persen atau 2,1 dolar dan menjadi ditutup pada 1.017,7 dolar per ons.

Bergerak Naik, Harga Emas Terpengaruh oleh Inflasi IHK AS

Rabu (11/08), perdagangan emas berjangka pada divisi COMEX New York Mercantile Exchange naik sesuai harapan pasar lantaran indeks harga konsumen (IHK) AS yang merupakan indikator utama inflasi naik di bulan Juli.

Departemen Tenaga Kerja AS mengutarakan bahwa di bulan Juli, IHK naik 0.5 persen. Pada Juni, IHK turun sebesar 0,9 persen. Imbal hasil dolar AS serta surat berharga AS turun mendukung emas sesudah laporan tersebut diluncurkan,

Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Desember naik 1,25 persen atau sebesar 21,6 dolar AS, kemudian ditutup pada 1.753,3 dolar AS per ons.

Harga perak untuk pengiriman September mengalami kenaikan 0,41 persen ekuivalen dengan 9,6 sen, menjadi ditutup pada 23.488 dolar AS per ons.

Kenaikan terjadi pula pada platina untuk pengiriman Oktober sebesar 2,9 persen yang sebanding dengan 28,6 dolar dan ditutup pada 1.015,6 dolar AS per ons.

Indeks Dolar Terus Menguat Menjelang Pengumuman Data Ekonomi

Nilai tukar dolar AS hari ini terhadap beberapa mata uang dunia lainnya masih mengalami penguatan pada akhir perdagangan Selasa kemarin.

Pada hari ini, indeks dolar mengalami lanjutan sambil menunggu pengumuman data ekonomi utama yang akan segera rilis. Diprediksi, pemulihan ekonomi akan cenderung positif dan hal ini membuat dolar AS terus menguat terhadap mata uang lainnya.

Rata-rata kenaikan indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia pada hari ini mencapai 0,12% pada 93,0566

Market Euro mengalami penurunan menjadi USD 1,1721 DARI USD 1,1739 pada sesi sebelumnya, dan Poundsterling mengalami penurunan menjadi USD1,3839 dari USD1,3852 pada sesi sebelumnya, sedangkan dolar Australia naik menjadi USD0,7351 dari USD0,7334.

Dolar AS terhadap Yen Jepang naik menjadi 110,57 Yen Jepang, lebih tinggi daripada sesi sebelumnya yang mencapai 110,27. Dolar AS terhadap Swiss Franc naik menjadi 0,9229 dari sebelumnya 0,9201, dan dolar Kanada mengalami penurunan menjadi 1,2526 dari sebelumnya 1,2571.

Pengumuman terhadap rilisnya data indeks harga konsumen AS dan indeks harga produsen, dua ukuran utama inflasi, masing-masing akan terjadi pada hari Rabu dan Kamis minggu ini.

Harga Emas Menguat oleh Inflasi IHK AS Sesuai Harapan

Rabu (11/08), perdagangan emas berjangka pada divisi COMEX New York Mercantile Exchange naik sesuai harapan pasar lantaran indeks harga konsumen (IHK) AS yang merupakan indikator utama inflasi naik di bulan Juli.

Departemen Tenaga Kerja AS mengutarakan bahwa di bulan Juli, IHK naik 0.5 persen. Pada Juni, IHK turun sebesar 0,9 persen.

Imbal hasil dolar AS serta surat berharga AS turun mendukung emas sesudah laporan tersebut diluncurkan.

Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Desember naik 1,25 persen atau sebesar 21,6 dolar AS, kemudian ditutup pada 1.753,3 dolar AS per ons.

Harga perak untuk pengiriman September mengalami kenaikan 0,41 persen ekuivalen dengan 9,6 sen, menjadi ditutup pada 23.488 dolar AS per ons.

Kenaikan terjadi pula pada platina untuk pengiriman Oktober sebesar 2,9 persen yang sebanding dengan 28,6 dolar dan ditutup pada 1,015,6 dolar AS per ons.

Dolar AS Menguat Lagi! Ekspektasi Pengurangan Aset Lebih Awal

Dolar Amerika Serikat terus lanjut menguat pada hari Selasa setelah data pekerjaan yang rilis kemarin hingga terus meningkatkan ekspektasi pengurangan awal stimulus moneter yang masih dari Fed.

Index dolar naik sebesar 0.02% ke 92,953 bergerak menguat pada Selasa (10/08) petang pasca serangkaian rilis data pekerjaan yang kuat meningkatkan ekspektasi pengurangan awal stimulus moneter nan masif dari Federal Reserve AS.USD/JPY juga mengalami kenaikan hingga 0.07% ke 110,33, GBP/USD naik 0.01% di 1,3845 dan EURUSD naik 0,02% di 1,1737.

Di Indonesia sendiri, rupiah masih melemah hingga 0,26% di 14.398,3 hingga pukul 13.45 WIB.

Yang memicu sentimen dolar pada saat ini adalah rilis bulanan survey lowongan kerja dan perubahaan pekerjaan dari Departemen Tenaga Kerja AS yang pada akhirnya menunjukkan lowongan pekerjaan yang meningkat hingga mencapai rekor tertinggi 10,1 juta dari yang sebelumnya hanya 590.000.

Data ini juga menyusul laporan pekerjaan resmi AS pada hari Jumat, di mana data nonfarm payrolls mengalami peningkatan hingga 943.000 di bulan Juli, di mana hal ini jauh lebih besar daripada yang diprediksi sebelumnya. Kekuatan pasar tenaga kerja inilah menjadi pemicu utama pergolakan pergerakan pasar untuk meninjau kembali kapan Fed akan mulai mengurangi program pembelian aset yang sebelumnya senilai $120 miliar dan diprediksi pada tahun ini akan dikurangi seiring dengan peningkatan suku bunga di taun 2022.

Para pengambil kebijakan dari Fed juga mulai mengarah terhadap penurunan awal. Presiden Fed, Atlanta Raphael Bostic menurutkan bahwa ia sedang membidik target kuartal IV, di mana jika tidak lebih awal melakukan pengurangan pembelian obligasi, sementara Eric Rosengren salah satu rekannya dari Boston mengindikasikan bahwa pengumuman pengurangan aset akan segera diumumkan di bulan September. Risiko peristiwa besar berikutnya untuk pasar valuta asing adalah rilisnya data inflasi konsumen AS pada hari Rabu nanti, khususnya seputar pertanyaan tentang apakah efek penurunan ini masih dapat menganggu aset pasar.

Ujian lainnya adalah rilisnya IHK Juli AS yang akan diperkirakan mencapai puncaknya di sekitar area tahun 5,3/5, atau 4%. Jika bisa lebih tinggi, terutama jika data intinya naik, maka hal ini dapat mengindikasikan bahwa keluarnya Fed dari kebijakan pelonggaran kemungkinan akan berdampak lagi pada hal-hal yang tidak terduga.

Kesimpulannya, laporan telah berhasil meningkatkan ekspektasi bahwa bank sentral akan segera mengumumkan pengurangan lagi dalam rasio persyaratan cadangan untuk perbankan setelah pemotongan mendadak di bulan Juli.

Harga Emas Dunia Jatuh ke Level Terendah Pasca Rilisnya Data Ketenagakerjaan di AS

Harga emas dunia pengalami penurunan yang cukup signifikan pada akhir pekan lalu hingga mencapai level terendahnya dalam sebulan terakhir ini. Harga emas di pasar futures turun hingga 2,5 persen ke 1.763,11 dolar AS per ons dan harga emas di pasar spot mengalami penurunan sampai 2,2 % ke level 1.763.97 dollar AS setelah harga sempat menyentuh titik terendah di 1.757,69 dolar AS sejak tanggal 30 Juni 2021. Data-data tersebut terpengaruh dari rilisnya data ketenagakerjaan membangun sentimen positif pada perpecepatan pemulihan ekonomi.

Pelemahan harga emas yang dan peningkatan tenaga kerja ini jauh lebih tinggi daripada prediksi para analis, di mana AS berhasil menambahkan lapangan kerja sebanyak 943.000 lapangan kerja, tertinggi sejak Agustus 2020. Jauh lebih banyak ketimbang konsensus pasar yang dihimpun Reuters dengan perkiraan 870.000 di bulan Juli.

Jika melihat penurunan yang sedang berjalan, emas berpotensi mengalami penurunan hingga level 1.700 dalam waktu dekat. Namun tentunya, kita tetap harus melihat sentimen-sentimen dukungan perekonomian global, yang akan menjadi penentu pergerakan emas berikutnya.

Dengan demikian, pasokan dolar AS di pasar tentunya tidak akan melimpah lagi seperti sekarang. Prinsipnya, pasokan yang berkurang sementara permintaan tetap tinggi akan membuat harga akan terdongkrak.

Adapun logam mulia lain seperti Perak yang mengalami penurunan hingga 3,2 persen menjadi 24,32 dolar AS per ons dan Platinum yang mturun hingga 2,2% ke harga 983,53 dolar AS per ons.

Dolas AS Terus Menguat Rilis Data Ketenagakerjaan

Sebelum rilisnya pengumuman laporan pekerjaan AS terbaru terjadi penguatan kembali pada Jumat petang. Hal ini tentunya menjadi indikasi bahwa AS bisa memperketat kebijakan moneternya lebih awal daripara Eropa dan Jepang. Hingga siang ini, terpantau indeks dolar AS naik 0,10% ke 92,367 pukul 12.42 WIB dari data Investing.com.

Terpantau AUD/USD melemah 0,23% di 0,7386 dan NZD/USD turun tipis 0,07% di 0,7049.Pasangan USD/JPY turun tipis 0,08% di 109,81.

Di Indonesia sendiri, rupiah masih mengalami pelemahan sekitar 0,20% di 14.365,0 per dolar AS hingga pukul 12.58 WIB.

Pasangan GBP/USD turun 0,08% di 1,3915 pasca keputusan Bank of England (BOE) untuk mempertahankan suku bunganya tidak berubah sebesar 0,10%. Di luar itu, tidak ada perubahan kebijakan yang signifikan pada hari Kamis kemarin. Akan tetapi, BOE tetap menuturkan rencana menuju pengurangan aset dan kenaikan suku bunga di tahun-tahun mendatang.

Reserve Bank of India juga memberikan keputusan tetap seperti kebijakannya sebelumnya.

Wakil Ketua Federal Reserve AS Richard Clarida pada pekan ini mengatakan bahwa kondisi untuk kenaikan suku bunga mungkin akan dilakukan pada akhir 2022, dan mereka bisa memberikan fokus lebih pada pemulihan pasar tenaga kerja dari COVID-19 dan laporan pekerjaan AS hari ini.

Jika ternyata jumlahnya melebihi satu juta, maka prediksi bahwa dollar AS akan menguat semakin tajam, dan jika angka di bawah 650.000 maka akan berpotensi menimbulkan kegugupan.

Investor juga mencerna data ekonomi AS yang beragam dirilis awal pekan ini. Melihat dari data yang dirilis pada hari Rabu, hal ini menunjukkan perubahan indeks manajer pembelian jasa (PMI) sebesar 59,9, pekerjaan nonpertanian ADP berada di 330.000 pada bulan Juli, PMI non-manufaktur ISM berada di 64,1 dan ketenagakerjaan non-manufaktur dari Institute of Supply Management (ISM) berada di 53,8.

Hingga hari ini, investor menyambut baik penurunan awal tingkat pengangguran di AS dan tercatat hanya sekitar 385.000 yang diajukan selama seminggu terakhir.

Di luar hal tersebut, meskipun mata uang Antipodean yang lebih berisiko bergerak turun karena greenback menguat, dolar Selandia Baru diprediksi siap menjadi mata uang G10 dengan kinerja terbaik saat pekan ini berakhir. Beberapa ekspekasi mulai bermunculan bahwa Reserve Bank of New Zealand akan menaikkan suku bunga pada pertemuan berikutnya pada 18 Agustus mendatang.

Sinyal Tapering Awal dari Fed, Suku Bunga Menguat dan Penguatan Dolar AS

Federal Reserve AS meningkatkan ekspektasi pada penurunan aset (tapering) yang lebih awal dari perkiraan sehingga dolar Amerika Serikat mengalami sedikit penguatan pada Kamis (08) pagi di Asia. Komentar yang cenderung hawkish hari ini turut pula menopang penguatan dolar AS.

Hingga siang ini, terpantau indeks dolar AS naik tipis 0,04% ke 92,3024 pukul 11.41 WIB menurut data Investing.com.

Dari pasar Asia, pasangan USD/JPY naik 0,18% ke 109,67. AUD/USD menguat 0,19% di 0,7393 usai rilis data perdagangan Australia dirilis sebelumnya menunjukkan ekspor naik sebesar 4% bulan ke bulan di bulan Juni, adapun impor tumbuh 1% dari bulan ke bulan dan neraca perdagangan mencapai AUD10,496 miliar. Pasangan NZD/USD stabil di 0,7047.

Wakil Ketua Fed Richard Clarida, mengatakan persyaratan untuk kenaikan suku bunga dapat dipenuhi pada akhir 2022 dengan langkah berikutnya pada awal 2023 pada hari Rabu. Bersama tiga rekannya, Clarida juga turut mengisyaratkan bahwa akan terjadi pengurangan aset pada 2021 atau awal tahun 2022.

Hasil ke depannya akan bergantung kepada percepatan pemulihan ekonomi dari sektor ketenaga kerjaan imbas dari COVID-19, yang nanti akan bisa diukur dari laporan pekerjaan AS di hari Jumat nanti, termasuk data ketenagakerjaan nonpertanian.

Aanalis NatWest Markets Brian Daingerfield menuturkan bahwa perubahan sikap hawkish di antara komite mengenai risiko inflasi yang lebih bertahan merujuk pada ekspektasi untuk gaji pada Jumat, dan gaji berikutnya, akan sangat tinggi,

Hal yang membuat prediksi atas laporan pekerjaan menjadi sulit adalah kemacetan tenaga kerja yang dihasilkan, penyebaran lanjutan kasus COVID-19 secara global, dan data perlambatan ekonomi AS hari Rabu.

Jika melihat data pada bulan Juli, perubahan pekerjaan nonpertanian ADP mencapai 330.000, di mana hasil ini lebih rendah dari estimasi publik. Indeks PMI non-manufaktur ISM berada di 64,1, Manajer Pembelian Jasa (PMI) dirilis sebesar 59,9, sedangkan pekerjaan non-manufaktur dari Institute of Supply Management (ISM) berada di 53,8.

Komentar Clarida ini sendiri membuat para investor memperkirakan akan ada sedikit lebih banyak peluang kenaikan antara akhir 2022 dan awal 2022. Tentunya hal ini akan serta meratakan kurva imbal hasil Treasury seiring kenaikan imbal hasil jangka pendek.

Jika keputusan Fed mengikuti jadwal yang ditetapkan oleh Clarida, maka Fed akan memulai pengurangan aset bahkan lebih cepat dari European Central Bank (ECB), yang masih bekerja untuk menempatkan tingkat inflasi menuju targetnya.

Di lain tempat, Bank of England (BOE) melakukan pergerakan menuju pengurangan aset dan akan mengungkapkan jadwalnya saat menerbitkan keputusan kebijakannya hari ini.
Reserve Bank of India akan memberikan keputusan kebijakannya sendiri pada hari Jumat.

Namun, di luar semua itu Reserve Bank of New Zealand diprediksi bisa mengungguli semuanya, yang diperkirakan akan segera menaikkan suku bunga pada pertemuan kebijakan berikutnya di 18 Agustus mendatang.

Harga Emas Cenderung Mengkhawatirkan Pasca Rilisnya Data Tenaga Kerja AS

Karena dampak dari kekhawatiran investor akan rilisnya data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang akan dirilis pada minggu ini, harga emas dunia mengalami pelemahan. Pada akhirnya, hal ini bisa mempengaruhi terhadap Federal Reserve untuk mengurangi pembelian asetnya.

Data per hari ini menunjukkan bahwa emas berjangka US ditutup 0.4 persen mengalami pelemahan menjadi 1.814,11 dolar AS per ounce dan harga emas di pasar spot mengalami penurunan sebesar 0.2 persen menjadi 1.809.78 per ouncenya.

Data non-farm payrolls Amerika akan segera rilis pada hari Jumat pekan ini.

Keputusan The Fed untuk melakukan tapering dan angka ketenagakerjaan yang akan dirilis pada Jumat pekan ini menjadi penentu seberapa cepat hal itu akan terjadi. Jadi, jika prospek jangka pendek untuk emas masih bullish, ada laporan lain dari penggajian non per pertanian yang kuat yang dapat mematahkan prediksi tersebut.

Chairman The Fed Jerome Powel berkata bahwa data tenaga kerja masih memiliki “beberapa alasan untuk di-cover” sebelum pihaknya dapat menarik kembali dukungannya terhadap ekonomi, yang mendorong harga emas ke level tertinggi dua minggu.

Namun, dua pembuat kebijakan lain bank sentral AS yang cenderung lebih hawkish mengatakan bahwa dalam beberapa hari terakhir mereka percaya pemulihan pasar tenaga kerja hampir usai dan diharapkan bisa membuka jalan bagi The Fed untuk mulai mengurangi dukungannya terhadap ekonomi dalam hitungan bulan.

Ketidakmampuan emas untuk mengambil keuntungan dari “mencairnya” suku bunga riil dan kekhawatiran atas varian Delta Covid-19 menunjukkan kurangnya minat spekulatif, dengan The Fed yang masih di jalur untuk melakukan tapering pada Desember.

Opportunity cost memegang emas yang tidak memberikan bunga meningkat imbas dari suku bunga yang lebih tinggi

Per hari ini, untuk Logam lainnya seperti perak naik 0,3 persen menjadi 25,53 dolar AS per ounce, paladium melemah 0,9 persen menjadi 2.652,39 dolar AS per ounce, dan platinum turun 0,7 persen menjadi 1.049,27 dolar AS per ounce