Emas Tak Banyak Bergerak Meskipun Dolar AS Lebih Kuat

Emas sentuh level tertinggi lebih dari satu pekan karena risiko pertumbuhan ekonomi global diprediksi terganggu dari meningkatnya kasus varian Omicron.

Selasa (28/12), harga emas di pasar spot stabil di 1.807,51 USD per ounce setelah mencapai level tertinggi sejak 17 Desember di 1.813,35 USD di awal sesi.

Sementara itu, emas berjangka ditutup turun 0,2 persen menjadi 1.808,80 USD per ounce. Walaupun ada dolar AS yang lebih kuat, tidak ada banyak pergerakan emas hari ini.

Indeks Dolar (Indeks DXY) bangkit dari level terlemahnya dalam hampir seminggu, membuat emas yang dihargakan dengan  greenback kurang menarik bagi pemegang mata uang non-AS.

Prospek emas pada kuartal pertama 2022 cukup optimistis, dengan pemicu utamanya adalah inflasi. Emas yang tidak memberikan imbal hasil sering dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi yang lebih tinggi.

Paladium naik 0,1 persen menjadi 1.950,25 USD per ounce, mencapai level tertinggi sejak pekan lalu.

Pasangan USD/JPY mengalami kenaikan hingga ke 114.927. Lalu, AUD/USD menurun sedikit ke 0,72271. GBP/USD menguat ke 1,34379, sedangkan EUR/USD melemah ke 1.13213.

Awali Pekan, Emas Menguat Tipis

Senin (27/12) harga emas naik. Emas dunia kuat di level kunci 1.800 per ons pada perdagangan akhir pekan kemarin menjelang liburan akhir tahun, bahkan ketika dolar stabil dan selera untuk aset berisiko meningkat di tengah meredanya kekhawatiran atas dampak dari varian virus corona Omicron.

Harga emas di pasar spot naik 0,1 persen menjadi 1,805,27 USD per ounce, sementara emas berjangka AS naik 0,2 persen menjadi 1,805,23 per ounce.

Emas menghadapi resistensi teknis dengan risiko geopolitik di depan berpotensi menjaga emas tetap didukung. 

Awal bulan ini, Federal Reserve AS mengisyaratkan target inflasinya telah terpenuhi dan membuka jalan bagi kenaikan suku bunga tiga perempat poin persentase pada akhir tahun 2022.

Saham global, imbal hasil obligasi dan mata uang berisiko semuanya mencapai tertinggi baru-baru ini pada hari Kamis karena kepercayaan investor tumbuh pada tanda-tanda bahwa Omicron mungkin kurang parah dari yang ditakuti, serta data ekonomi AS yang kuat.

Meskipun emas batangan dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga akan menghasilkan biaya peluang yang lebih tinggi untuk memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil. Investor juga mengawasi perkembangan seputar kebuntuan Rusia dengan kekuatan Barat atas Ukraina.

Sementara itu, harga perak stabil di 22,78 USD per ounce, dan platinum turun 0,5 persen menjadi 958,93 USD per ounce, masing-masing naik 2,1 persen dan 3,1 persen sejauh minggu ini, sedangkan paladium naik 0,7 persen menjadi 1,894,54 USD per ounce, dan naik sekitar 6,5 persen untuk minggu ini.Pasangan USD/JPY mengalami kenaikan hingga ke 114.417. Lalu, AUD/USD meningkat sedikit ke 0,72388. GBP/USD menguat ke 1,34135, sedangkan EUR/USD melemah ke 1.13238.

Penjualan Peruumahan AS Pengaruhi Harga Emas

Emas kembali naik setelah penjualan perumahan di Amerika Serikat (AS) masih di bawah ekspektasi. Padahal, pembelian rumah jadi salah satu tolok ukur pemulihan ekonomi sebelum kenaikan suku bunga fed di 2022.

Jumat (24/12), penjualan rumah baru AS berada di bawah ekspektasi pada November dengan kenaikan 12,4 persen. Nomor bulan sebelumnya direvisi turun.

Dalam setahun, harga emas sudah turun 2,99 persen. Namun, emas meningkat hingga ke level 1.808 USD per ons atau naik 0,29 persen pada perdagangan akhir pekan ini. 

Penjualan rumah baru berada pada tingkat tahunan yang disesuaikan secara musiman dari 744 ribu rumah pada November. Konsensus pasar menyerukan agar penjualan meningkat menjadi 770 ribu unit di November. Secara tahunan, penjualan rumah baru turun 14 persen dari perkiraan tahun lalu sebesar 865 ribu unit.

Melihat harga rumah, laporan tersebut mengatakan bahwa harga jual rata-rata untuk rumah yang terjual bulan lalu adalah 416.900 USD, sedangkan harga rata-rata adalah 481.700 USD. Pada akhir November, persediaan rumah untuk dijual berada di 402 ribu, mewakili pasokan 6,5 bulan dengan tingkat penjualan saat ini.

Pasangan USD/JPY mengalami kenaikan tipis ke 114.325. Lalu, AUD/USD meningkat ke 0,72306. GBP/USD menguat ke 1,34020 dan EUR/USD pun naik ke 1.13300.

Harga Emas Stabil, Namun Dolar Melemah

Kamis (23/12) menjelang perayaan Natal, harga emas stabil. Dolar Amerika Serikat (AS) yang lebih lemah mengimbangi selera risiko, diidukung oleh studi Omicron yang menggembirakan dan meningkatnya optimisme seputar prospek ekonomi global. 

Harga emas spot sedikit berubah pada 1.806,85 USD per ons troi. Namun, harga emas berjangka AS naik 0,3% ke 1,808,20 USD. Harga emas ditetapkan untuk kenaikan mingguan kedua sebesar 0,5%. 

Indeks saham AS ditutup lebih tinggi semalam setelah investor menyambut baik data ekonomi positif dan Gedung Putih mengatakan akan melanjutkan pembicaraan tentang pengeluaran sosial besar-besaran dan RUU perubahan iklim dengan senator yang tidak setuju. 

Indeks dolar berada di dekat level terendah satu minggu terhadap mata uang dan kelas aset yang lebih berisiko, membuat emas lebih murah bagi pemegang mata uang non-AS. 

Investor mengambil stok data yang menunjukkan pertumbuhan ekonomi AS melambat tajam pada kuartal ketiga di tengah meningkatnya infeksi Covid-19, meskipun aktivitas telah meningkat, menempatkan ekonomi di jalur kinerja terbaiknya tahun ini sejak 1984. 

Di sisi lain, harga perak spot naik 0,1% ke 22,81 USD per ons troi, platinum melonjak 0,3% hingga ke 968 USD, dan paladium turun menjadi 1.868,96 USD.

Pasangan USD/JPY mengalami kenaikan tipis ke 114.167. Namun, AUD/USD melemah ke 0,72093. GBP/USD menguat ke 1,33481 dan EUR/USD pun naik ke 1.13399.

Emas Melemah, Minat Investor terhadap Aset Berisiko Kembali Pulih

Rabu (22/12) pagi WIB, emas melemah. Hal ini terjadi saat dolar AS mengalami penguatan, imbal hasil obligasi pemerintah AS meningkat, dan minat investor terhadap aset-aset berisiko kembali pulih. 

Kontrak emas teraktif untuk pengiriman Februari di divisi Comex New York Exchange, tergelincir 5,8 USD atau setara 0,33 persen dan menjadi ditutup pada 1.788,72 USD per ounce. Emas di pasar spot juga melemah 0,2 persen menjadi diperdagangkan di 1.786,51 USD per ounce.

Perdagangan juga tampak kurang bergairah karena investor bersiap untuk liburan Natal akhir pekan. Banyak pasar global, termasuk untuk logam mulia, akan ditutup pada Jumat (24/12) untuk memperingati perayaan Natal. 

Terdapat risiko pada perdagangan karena ekuitas AS bangkit kembali setelah kerugian kemarin dan dolar juga pulih bersama dengan imbal hasil obligasi pemerintah AS, semuanya sedikit menekan emas. Investor sedang membeli segala jenis penurunan yang dapat diterima karena khawatir tentang ketidakpastian termasuk pukulan ekonomi dari Covid-19 dan level 1.800 dolar AS tetap menjadi titik pivot utama untuk emas. Dolar AS menutup beberapa kerugiannya, sementara sentimen risiko pulih sebagian setelah aksip jual di pasar global.

Namun, logam mulia dapat memperoleh tawaran beli baru pada tahun 2022 jika ekspektasi inflasi tetap tinggi sementara imbal hasil nominal tetap tertekan. Emas sering dianggap sebagai lindung nilai terhadap lonjakan besar harga konsumen (inflasi), tetapi kenaikan suku bunga dapat mengekang tekanan inflasi sementara juga mengurangi daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil. Kendati demikian, investor emas masih belum memiliki nyali untuk segala jenis kerugian, sebagaimana dibuktikan oleh kemunduran cepat baru-baru ini pada reli di atas 1.800.

Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Maret naik 1,07 persen, menjadi ditutup pada 22,528 USD per ounce. Platinum untuk pengiriman Januari naik 1,5 USD dan menjadi ditutup pada 927,81 per ounce.
Pasangan USD/JPY mengalami kenaikan ke 114.094. AUD/USD juga melonjak ke 0,77357. GBP/USD, pun menguat ke 1,32587 dan EUR/USD naik ke 1.12778.

Omicron Nampaknya Tak Bawa Dampak Besar Bagi Emas

Biasanya, ketika jumlah infeksi virus corona meningkat, seperti halnya yang terjadi saat ini dimana negara-negara Eropa dan Amerika Serikat mengalami lonjakan kasus virus corona varian Omicron, emas naik. Akan tetapi, emas justru melemah.

Selasa (21/12), harga emas di pasar spot turun 0,2 persen menjadi 1.793,34 USD per ounce, sementara emas berjangka AS turun 0,6 persen menjadi 1.794,61 USD per ounce.

Emas menemukan sedikit dukungan dari dolar yang lebih rendah. Ekuitas global mundur di tengah kekhawatiran atas dampak pembatasan Covid-19 yang lebih ketat, tetapi arus masuk  safe-haven  ke emas tampaknya terhenti.

Ini berbeda dengan sesi Jumat, ketika kekhawatiran yang dipimpin Omicron mendorong harga emas ke level tertinggi sejak 26 November.

Emas mencatat sedikit reli yang bagus dan sekarang kita memasuki periode liburan di mana tidak ada lagi partisipasi penuh dari investor.

Ketegangan tersebut kemungkinan akan bertahan hingga akhir tahun sebelum akhirnya konsolidasi di atas 1.800 pada Januari atau lebih di tengah berita Omicron.

Kenaikan suku bunga akan meningkatkan  opportunity cost  memegang logam kuning yang tidak memberikan imbal hasil walaupun emas dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian yang lebih tinggi.

Namun, ketidakpastian akibat Omicron dapat menyebabkan narasi bank sentral yang lebih dovish pada 2022, membantu emas.

Kekhawatiran tentang dampak ekonomi dari pembatasan Covid-19 tampaknya telah merembet ke logam lain, yang cenderung mengikuti pemulihan pasar yang lebih luas.

Sementara itu, paladium melemah 2 persen menjadi 1.746,86 USD per ounce, namun platinum naik ke 930,50 USD per ounce. Perak turun 0,3 persen menjadi 22,28 USD per ounce.

Pasangan USD/JPY mengalami kenaikan hingga ke 113,637. AUD/USD juga menguat ke 0,71092. GBP/USD, pun naik tipis ke 1,32093 dan EUR/USD menanjak ke 1.12771.

Tanda Kenaikan Suku Bunga Bank Sentral AS Diprediksi Tak Menghambat Kenaikan Emas Pekan Ini

Emas telah diprediksi masih akan melanjutkan penguatan pada pekan ini. Emas masih akan di atas level psikologis USD 1.800 per ounce.

Dolar AS yang lebih lemah dan imbal hasil obligasi riil yang sedikit lebih rendah membantu mendorong harga emas lebih tinggi.

Harga emas masih akan menanjak walaupun Bank Sentral AS mengisyaratkan untuk menaikkan suku bunga di tahun 2022. Bahkan isyarat yang diberikan kenaikan bunga akan dilakukan tiga kali.

Namun memang, beberapa analis melihat bahwa kenaikan harga emas akan sedikit terganjal. Hal ini karena beberapa pelaku pasar akan melakukan aksi ambil untung sebelum menghadapi tantangan kenaikan suku bunga riil di tahun depan.

Saat ini, karena The Fed bertindak untuk menekan inflasi. Itu berarti imbal hasil riil mungkin telah mencapai titik terendah dalam waktu dekat. Dolar kemungkinan tidak naik lebih tinggi.

Harga kemungkinan akan naik, tetapi secara bertahap. Dolar AS telah mencapai puncaknya untuk saat ini dan akan memberi emas kesempatan untuk bergerak lebih tinggi.

Di sisi lain, pasangan USD/JPY mengalami penurunan tipis ke 113,509. AUD/USD juga turun tipis ke 0,70943. GBP/USD, pun melemah ke 1,32072 dan EUR/USD turun ke 1.12524.

Emas Naik di Akhir Pekan

Harga emas kembali naik pada perdagangan Jumat (17/12) pagi di waktu Asia di 1.798,20 dolar AS per ons troi. Emas untuk pengiriman Februari 2022 di Commodity Exchange ada di 1.800,10 dolar AS per ons troi, naik dari sehari sebelumnya. 

Emas alami kenaikan dua hari berturut-turut usai melemahnya dolar AS, menyusul keputusan penting bank sentral yang cenderung hawkish.

Pelemahan dolar AS juga meningkatkan harga emas. Para trader bertaruh bahwa kebijakan moneter yang lebih ketat tidak akan menggagalkan pemulihan ekonomi global.

Pejabat Federal Reserve mulai mengintensifkan perhatiannya untuk meredam kenaikan inflasi dengan mengakhiri program pembelian asetnya lebih cepat dan memberi sinyal kenaikan suku bunga pada tahun 2022. 

Pergeseran ekspektasi kebijakan moneter akan tetap menjadi sumber volatilitas harga emas dan perak tahun depan. 

Kurangnya aksi jual berkelanjutan pada emas setelah pergeseran hawkish menunjukkan bahwa pasar masih cukup kuat. Memasuki musim perayaan dan akhir tahun, investor nampaknya tidak akan terlalu agresif dalam mengambil posisi.

Pasangan USD/JPY mengalami penurunan ke 113,557, sedangkan AUD/USD naik tipis ke 0,71656. GBP/USD, juga naik ke 1,33328 dan EUR/USD naik ke 1.13394.

Fed Mengetatkan Kebijakan Moneternya, Dolar pun Menurun

Kamis (16/12) pagi WIB, Dolar Amerika Serikat bergerak menurun. Hal ini terjadi karena Federal Reserve AS mengetatkan kebijakan moneternya dalam poros pandangan nan hawkish.

Pasangan USD/JPY mengalami kenaikan tipis 0,10% di 114,14, sedangkan AUD/USD menurun 0,16% di 0,7156 usai data pekerjaan dari Biro Statistik Australia menunjukkan perubahan pekerjaan yang mencatat 366.100, perubahan lapangan kerja penuh sebesar 128.300, dan tingkat pengangguran sebesar 4,6%, pada bulan November.

NZD/USD juga turun 0,21% di 0,6764. Begitu pula dengan GBP/USD, turun tipis 0,06% di 1,3255. Namun, EUR/USD naik ke 1.2888.

Indeks Dolar AS yang mengukur greenback terhadap sejumlah mata uang lainnya turun tipis ke 96,366.

Fed akan mempercepat program pengurangan asetnya menjadi $30 miliar per bulan, bank sentral ini menyatakan dalam pertemuan keputusan kebijakan Rabu setempat. Bank sentral juga mempertahankan suku bunganya tidak berubah sebesar 0,25% tetapi akan memiliki tiga kenaikan suku bunga seperempat poin pada tahun 2022, tiga lainnya pada tahun 2023, dan dua lagi pada tahun 2024 untuk mengatasi inflasi.

Jerome Powell mengatakan bahwa rekonomi tidak lagi membutuhkan peningkatan jumlah dukungan kebijakan. Ia membandingkan situasi hampir depresi saat awal COVID-19 pada tahun 2020 dengan kenaikan harga dan upah saat ini, serta peningkatan pesat di pasar kerja.

Investor sekarang menunggu keputusan kebijakan dari ECB dan BOE hari ini.

BOE berusaha mengatasi inflasi dan menenangkan kekhawatiran terhadap varian omicron yang menyebar cepat. Data Inggris pada hari Rabu menunjukkan indeks harga konsumen (IIHK) tumbuh sebesar 5,1% tahun ke tahun di bulan November, level tertinggi dalam satu dekade. IHK naik 0,7% bulan ke bulan.

ECB akan mengakhiri Program Pembelian Darurat Pandemi mereka, tetapi investor masih memperkirakan bahwa bank sentral tidak akan menaikkan suku bunga dulu.

Emas Anjlok Akibat Penguatan Dolar AS Jelang Pertemuan The Fed

Emas anjlok akibat penguatan Dolar AS jelang pertemuan Federal Reserve. Investor terus mengawasi kabar terbaru tentang rencana Bank Sentral AS berencana untuk mengurangi langkah-langkah stimulus pandemi.

Di pasar spot, emas melemah 0,2 persen menjadi USD 1,782.61 per ounce. Adapun emas berjangka AS turun 0,2 persen menjadi USD 1.784,61.

Dolar AS yang kuat dan kenaikan suku bunga riil AS mendorong ekspektasi inflasi yang menurun, sebagaimana diukur dengan tingkat inflasi impas.

Dikatakan jika para pelaku pasar akan melacak rapat Komite Pasar Terbuka Federal mendatang untuk melihat bagaimana bank sentral bereaksi terhadap peningkatan inflasi, yang akan menghasilkan kemungkinan pergerakan harga yang lebih besar.

Tercatat jika Dolar AS tetap menguat, membatasi permintaan emas batangan untuk pembeli yang memegang mata uang lainnya.

Sementara itu, imbal hasil Treasury AS naik dari palung satu minggu yang disentuh di sesi sebelumnya, juga menekan emas. 

The Fed akan memulai pertemuan kebijakan moneter dua hari di kemudian hari. Diharapkan pada akhir pertemuan akan diumumkan bahwa mereka menyelesaikan stimulus pembelian obligasi lebih cepat dari yang dikomunikasikan sebelumnya. Hal ini berpotensi menyiapkan kenaikan suku bunga lebih awal tahun depan.

Pengurangan stimulus dan kenaikan suku bunga cenderung mendorong imbal hasil obligasi pemerintah naik meningkatkan biaya peluang memegang emas batangan yang tidak dikenakan bunga. Jika The Fed meningkatkan langkah untuk meruncing, ini kemungkinan akan melemahkan harga emas karena dolar melonjak

Di sisi lain harga logam lainnya, perak turun 0,4 persen menjadi 22,21 USD per ounce. Sementara harga platinum turun 0,2 persen menjadi 928,13 USD, sedangkan paladium naik 0,3 persen menjadi 1.685,79 USD.

Sementara itu, GBP naik ke 1,32400 dolar AS, sedangkan EUR/USD melemah ke 1,12644. Pasangan AUD/USD melonjak ke 0,71156 dan USD/JPY naik ke 113.719.