Emas Diprediksi Akan Membaik di Pekan Ini

Investor mulai menyesuaikan posisi menjelang pertemuan Bank Sentral AS. Emas diperkirakan akan membaik di pekan ini.

The Fed akan mengadakan pertemuan selama dua hari pada pekan ini yang dimulai para hari Rabu. Otoritas moneter ini diperkirakan akan memberikan sinyal mengenai percepatan tapering yang sebelumnya sempat disinggung oleh Ketua Fed Jerome Powell di depan Senat AS.

Selasa (14/12), harga emas di pasar spot naik 0,2 persen ke level USD 1.786,18 per ons. Sedangkan harga emas berjangka AS ditutup melonjak ke level USD 1.788,31 per ons.

Jika the Fed mengumumkan kenaikan suku bunga segera pada kuartal berikutnya, maka emas mungkin naik lebih dari USD 1.800 per ons pada akhir tahun.

Dalam jangka pendek hingga menengah, harga emas diprediksi tidak akan kemana-mana sampai mendapatkan gambaran utuh seberapa besar the Fed mempercepat tapering.

Selain The Fed, Bank Sentral Eropa, Bank of England, dan Bank of Japan dijadwalkan bertemu pada akhir pekan ini.

Di sisi lain, GBP turun tipis ke 1,31985 dolar AS dan EUR/USD melemah ke 1,12784. Pasangan AUD/USD anjlok ke 0,71017, sedangkan USD/JPY naik ke 113.632.

Bereaksi Terhadap Pergerakan Dolar dan Suku Bunga, Emas Melemah

Senin (13/12) pagi WIB, emas mengalami koreksi.

Setelah naik tinggi pekan lalu, emas terkoreksi. Harga emas untuk pengiriman Februari 2022 di Commodity Exchange ada di US$ 1.783,30 per ons troi, turun 0,08%. Kini, investor memikirkan apakah The Fed akan mempercepat tapering di tengah kenaikan inflasi.

Kenaikan inflasi meningkatkan tekanan pada Federal Reserve untuk memperketat kebijakan moneter. Gubernur The Fed Jerome Powell menjadi lebih terbuka untuk melakukan tapering lebih cepat. 

Jay Hatfield, CEO Infrastructure Capital Advisors mengatakan, harga emas bereaksi terhadap pergerakan dolar dan suku bunga. Ia menambahkan, hal itu akan membuat dolar tetap kuat dan buruk bagi emas.

Harga emas menguat pada pekan lalu karena imbal hasil obligasi dan dolar AS merosot setelah data AS menunjukkan inflasi bulanan naik dalam laju tahunan tercepat dalam hampir 40 tahun. Data Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan inflasi naik 6,8% secara tahunan pada November.  

Di sisi lain, GBP naik tipis ke 1,32467 dolar AS dan EUR/USD naik ke 1,12932. Pasangan AUD/USD naik ke 0,717Di sisi lain, GBP naik tipis ke 1,32467 dolar AS dan EUR/USD turun ke 1,12932. Pasangan AUD/USD naik ke 0,71734, sedangkan USD/JPY melonjak ke 113.541.

Emas Berbalik dari Kenaikan Dua Sesi Sebelumnya

Jumat (10/12) pagi di waktu Asia, emas berbalik dari kenaikan dua sesi sebelumnya. Harga emas anjlok  karena data menunjukkan penurunan besar dalam klaim pengangguran AS menjelang laporan inflasi yang dapat memengaruhi strategi moneter the Fed serta dolar yang menguat.

Kontrak emas teraktif untuk pengiriman Februari di divisi Comex New York Exchange, turun sebesar 0,49 persen menjadi 1.776,72 per ons. Di pasar spot, emas turun 0,3 persen menjadi USD1.776,56 per ons.

Emas berjangka menurun sebanyak 0,04 persen menjadi 1,785,50 USD, setelah naik sebanyak 0,29 persen menjadi 1.784,70 USD pada Selasa, 7 Desember, dan melemah sebanyak USD4,4 atau 0,25 persen menjadi USD1.779,50 pada Senin, 6 Desember.

Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan pada Kamis, 9 Desember, jumlah orang Amerika yang mengajukan klaim baru untuk tunjangan pengangguran mingguan AS turun 43 ribu menjadi 184 ribu, level terendah 52 tahun. Emas turun ke bawah tekanan.

Dolar yang menguat, juga membuat emas kurang menarik bagi pembeli luar negeri. Pasar menunggu data IHK (Indeks Harga Konsumen) AS yang akan dirilis pada Jumat waktu setempat dan data Indeks Harga Produsen yang akan dirilis pada Selasa, 14 Desember.

Emas telah diperdagangkan dalam kisaran 1.760-1.790 dolar AS yang relatif ketat.

Laporan Indeks Harga Konsumen AS pada Jumat waktu setempat akan diikuti oleh pertemuan kebijakan The Fed pada 14-15 Desember.  

Hal itu karena investor berusaha untuk mengukur kemungkinan langkah Fed mengurangi stimulus dan menaikkan suku bunga. Sementara emas dianggap sebagai lindung nilai inflasi, suku bunga yang lebih tinggi akan meningkatkan peluang kerugian memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil.

Di sisi lain, GBP turun ke 1,32188 dolar AS dan EUR/USD naik ke 1,13025. Pasangan AUD/USD naik ke 0,71462, sedangkan USD/JPY melonjak ke 113.475.

Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Maret turun sebanyak 41,9 sen atau 1,87 persen menjadi 22,013 USD per ons. Sedangkan platinum untuk pengiriman Januari turun sebanyak 18,2 USD atau 1,9 persen menjadi 937,7 USD per ons.

Emas Cenderung Stabil Setelah Pelemahan Dolar AS

Harga emas cenderuung stabil pada perdagangan setelah dolar AS yang lemah mengimbangi imbal hasil Treasury AS yang lebih kuat. 

Emas cenderung tak bergerak karena investor menyesuaikan posisi menjelang data harga konsumen AS minggu ini. Pelaku pasar pun menanti kejelasan percepatan laju tapering Federal Reserve.

The Fed diperkirakan akan meningkatkan tapering hingga menjadi US$ 30 miliar per bulan. Selain itu, The Fed juga diprediksi akan memberikan indikasi agresif menaikkan suku bunga di tahun depan.

Kamis (9/12), emas di pasar spot bergerak mendatar di level USD 1.784,02 per ounce dan harga emas berjangka AS sebagian besar menetap tidak berubah di USD 1.785,50.

Benchmark Imbal hasil Treasury AS naik, meredupkan daya tarik emas. Di sisi lain, nilai tukar dolar turun, membuat harga emas batangan lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya.

Laporan CPI yang akan dirilis pada hari Jumat dapat mempengaruhi garis waktu Fed mengurangi dukungan ekonominya sebelum pertemuan kebijakan berikutnya pada 14-15 Desember.

Harga emas diprediksi berlabuh di USD 1.780-USD 1.800 per ounce, menunggu isyarat dari Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) dan data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS.Di sisi lain, GBP turun ke 1,31906 dolar AS dan EUR/USD naik ke 1,13277. Pasangan AUD/USD naik ke 0,71589, sedangkan USD/JPY melonjak ke 113.698.

Emas Menguat dalam Penantian Data Inflasi AS

Harga emas berjangka naik pada Rabu (08/12) pagi WIB karena perhatian investor beralih ke data inflasi AS yang akan dirilis akhir pekan ini. Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Februari di divisi Comex New York Exchange, ditutup pada 1.784,70 dolar AS per ounce. 

Data inflasi dapat mempengaruhi kecepatan Federal Reserve menaikkan suku bunga, saat mereka mengambil posisi menjelang Tahun Baru.

Pasar mengawasi pertemuan Fed minggu depan dan investor mencari kejelasan lebih lanjut tentang suku bunga pada saat ketidakpastian di sekitar varian virus corona Omicron

Laporan Indeks Harga Konsumen AS pada Jumat (10/12) dapat mempengaruhi kebijakan moneter Fed menjelang pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada 14-15 Desember. Saham global menguat hari ini karena kekhawatiran seputar varian Omicron mereda setelah pejabat tinggi penyakit menular.

Pembicaraan telepon Biden-Rusia juga diawasi dengan ketat karena ketidakpastian geopolitik utama apa pun akan mendukung emas, tetapi harga emas bisa turun jika situasi Omicron tidak memburuk, kata Jim Wyckoff, analis senior di Kitco Metals. 

Presiden AS Joe Biden mengatakan kepada Presiden Rusia Vladimir Putin pada Selasa (7/12) bahwa Barat khawatir Rusia akan menginvasi Ukraina.

Emas mendapat dukungan setelah Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan pada Selasa (7/12) bahwa produktivitas tenaga kerja sektor bisnis nonpertanian AS turun 5,2% pada kuartal ketiga 2021, penurunan terbesar dalam produktivitas kuartalan sejak kuartal kedua tahun 1960. 

Melonjaknya indeks pasar saham AS, menguatnya dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS membatasi kenaikan emas lebih lanjut. Penguatan dolar membuat harga emas lebih mahal bagi pembeli dengan mata uang lainnya. 

Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Maret naik 26 sen dan menjadi ditutup pada 22,522 dolar AS per ounce. Platinum untuk pengiriman Januari naik menjadi ditutup pada 950 USD per ounce.

Di sisi lain, GBP naik tipis ke 1,32460 dolar AS dan EUR/USD melemah ke 1,12804. Pasangan AUD/USD naik ke 0,71188, sedangkan USD/JPY menurun ke 113.451.

Harga Emas Melemah Akibat Penguatan Dolar AS

Kenaikan selera risiko investor dan penguatan dolar AS membuat harga emas melemah pada Selasa (07/12)

Namun investor masih menahan kepemilikan emas. Ketidakpastian akan penyebaran varian baru Omicron dan jelang pengumuman inflasi AS di pekan ini membuat penurunan logam mulia tersebut sedikit tertahan.

Pasar saham juga rebound dari minggu lalu, ketika penyebaran varian Omicron dan ekspektasi kebijakan moneter AS yang lebih ketat mengguncang pasar.

Emas di pasar spot melemah hingga ke 1.780,95 USD per ounce di Selasa (07/23) pagi WIB. Di sisi lain, emas berjangka AS anjlok menjadi 1.781,90 USD per ounce.

Dolar AS yang lebih kuat, kenaikan imbal hasil obligsi dan peningkatan selera risiko melemahkan minat para pelaku pasar pada emas.

Investor sedang menunggu data harga konsumen AS yang akan keluar pada Jumat nanti. Data ini akan menjadi isyarat strategi kebijakan moneter the Federal Reserve.

Sementara itu, GBP naik ke 1,32727 dolar AS dan EUR/USD melemah tipis ke 1,12862. Pasangan AUD/USD turun ke 0,70539 dan USD/JPY naik ke 113.479.

Emas Alami Penurunan Setelah Melonjak di Akhir Pekan

Senin (6/12) pagi di waktu Asia, emas mengalami penurunan tipis. Harga emas spot berada di 1.783,16 USD per ons troi, turun dari 1.783,28 USD, harga terakhir di akhir pekan lalu. Sementara harga emas kontrak Februari 2022 di Commodity Exchange turun ke 1.782,91 USD per ons troi dari sebelumnya 1.783,91 USD per ons troi.

Harga emas naik jelang akhir pekan lalu karena investor khawatir akan tapering Federal Reserve yang lebih cepat dan potensi kenaikan risiko akibat varian Covid-19 delta dan omicron.  

Sentimen di pasar keuangan masih datar di awal pekan kedua Desember. Data pekerjaan Amerika Serikat (AS) yang beragam dan kekhawatiran di sekitar varian virus corona omicron membebani sentimen pasar. Data pada akhir pekan lalu menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja AS sangat melambat pada November. Tetapi tingkat pengangguran turun ke level terendah 21 bulan di 4,2%. Data ini menunjukkan pasar tenaga kerja dengan cepat mengetat. 

Sementara imbal hasil obligasi 10-tahun AS turun di bawah 1,4% untuk pertama kalinya sejak September. Penurunan yield ini mengurangi biaya peluang memegang emas tanpa bunga. Pergerakan tipis harga emas kemungkinan berlanjut sepanjang pekan.  

The Fed diperkirakan akan mempercepat penghentian program pembelian obligasi pada rapat bulan ini. The Fed akan menimbang kondisi pasar tenaga kerja untuk membuka pintu bagi kenaikan suku bunga lebih awal dari yang mereka proyeksikan. 

Emas sangat sensitif terhadap kenaikan suku bunga AS, karena hal ini meningkatkan biaya peluang memegang emas batangan yang tidak memberikan imbal hasil. Emas sering dianggap sebagai lindung nilai inflasi, meskipun pengurangan stimulus dan kenaikan suku bunga mendorong imbal hasil obligasi pemerintah naik, diterjemahkan menjadi biaya peluang yang lebih tinggi untuk memegang emas, yang tidak membayar bunga.

Sementara itu, harga logam mulia lainnya, platinum naik 0,7 persen menjadi 942,63 dolar AS dan palladium meningkat hingga 1.824,47 dolar AS. Perak naik menjadi 22,524 dolar AS per ounce.

Di sisi lain, GBP menurun ke 1,32311 dolar AS dan EUR/USD melemah ke 1,12896. Pasangan AUD/USD turun ke 0,70144 dan USD/JPY menurun ke 112.995.

Emas Berbalik Arah di Akhir Pekan

Emas kembali melemah karena investor bertaruh Federal Reserve AS akan  lebih cepat  mengurangi pembelian obligasi untuk mengatasi lonjakan inflasi meskipun ada kekhawatiran pemulihan ekonomi di tengah varian baru virus corona Omicron.

Jumat (3/12), emas berjangka AS anjlok 0,3 persen menjadi 1.778,11 dolar AS dan emas di pasar spot turun 0,3 persen menjadi 1.777,87 dolar AS per ounce.

Jerome Powell mengatakan dalam kesaksian kongres pada hari Rabu bahwa bank sentral harus siap untuk menanggapi kemungkinan bahwa inflasi tidak akan surut pada paruh kedua tahun 2022,

Ia juga mengatakan bahwa The Fed akan mempertimbangkan pengurangan pembelian obligasi yang lebih cepat pada pertemuan dua hari mendatang yang akan dimulai pada 14 Desember.

Laporan ketenagakerjaan AS menunjukkan penggajian swasta meningkat sebesar 534.000 pekerjaan pada bulan November. Laporan tersebut dapat mempengaruhi sikap suku bunga Fed. 

Emas sering dianggap sebagai lindung nilai inflasi, meskipun pengurangan stimulus dan kenaikan suku bunga mendorong imbal hasil obligasi pemerintah naik, diterjemahkan menjadi biaya peluang yang lebih tinggi untuk memegang emas, yang tidak membayar bunga.

Di sisi lain, harga logam mulia lainnya, platinum naik 0,7 persen menjadi 940,08 dolar AS dan palladium meningkat hingga 1.756,47 dolar AS. Perak naik 0,5 persen menjadi 22,41 dolar AS per ounce.

Sementara itu, GBP naik tipis ke 1,32874 dolar AS, sedangkan EUR/USD melemah ke 1,12990. Pasangan AUD/USD turun ke 0,70648. USD/JPY naik tipis ke 113,085.

Dolar Melemah, Emas pun Melonjak

Emas melonjak di Kamis (2/12) pagi WIB di saat dolar AS melemah.

Harga emas di pasar spot naik 0,4 persen menjadi 1.780,06 USD per ounce setelah jatuh pada dua hari lalu, menyusul pernyataan Chairman Federal Reserve Jerome Powell, bank sentral akan membahas apakah bakal mengakhiri pembelian obligasi lebih cepat dari ekspektasi pada pertemuan Desember.

Chairman Federal Reserve Jerome Powell mengatakan dengan pertumbuhan ekonomi Amerika yang kuat dan ketidakseimbangan penawaran-permintaan akan bertahan dalam waktu dekat, pembuat kebijakan harus siap untuk menanggapi kemungkinan bahwa inflasi sepertinya tidak surut pada semester kedua tahun depan seperti diprediksi.

Kekhawatiran atas varian COVID-19 baru mensupport emas karena pembatasan baru akan memperlambat ekonomi global, dengan dolar yang lebih lemah juga meningkatkan permintaan bagi logam safe-haven tersebut.

Sementara itu, emas berjangka naik 0,4 persen menjadi 1.784,31 per ounce. Pantulan emas datang bersamaan dengan rebound dalam ekuitas, bahkan ketika Amerika memberlakukan aturan pengujian Covid-19 yang lebih ketat bagi pelancong udara, sementara lebih banyak negara memperketat perbatasan.

Beberapa investor memandang emas sebagai lindung nilai terhadap inflasi yang lebih tinggi, tetapi pengurangan stimulus dan kenaikan suku bunga mendorong yield obligasi pemerintah.

Harga perak di pasar spot jatuh sejauh 2,3 persen menjadi 22,28 USD per ounce. Platinum stabil di posisi 934,55 dolar per ounce, sedangkan paladium naik 0,1 persen menjadi 1.740,25 dolar per ounce.

Di sisi lain, GBP menurun ke 1,32859 dolar AS dan EUR/USD melemah tipis ke 1,13215. Pasangan AUD/USD turun ke 0,70931 dan USD/JPY menurun ke 113,034.

Waduh, Emas Anjlok Gara-gara Pernyataan Hawkish Jerome Powell

Rabu (1/12) pagi WIB, emas anjlok. Hal ini terjadi ketika para investor terpengaruh oleh pernyataan hawkish dari Kepala Federal Reserve AS Jerome Powell.

Keuntungan awal dari reli lebih dari satu persen yang dipicu oleh kekhawatiran atas varian baru virus Corona, Omicron akhirnya jadi terhapuskan.

Kontrak emas teraktif untuk pengiriman Februari di Divisi Comex New York Exchange, jatuh 8,7 USD atau setara 0,49 persen dan ditutup pada 1.776,52 USD per ounce. Di pasar spot, emas juga merosot 0,7 persen di 1.773,21 USD per ounce.

Pasar AS sempat tutup pekan lalu, tepatnya pada Kamis (25/11) untuk liburan Thanksgiving. Pada awal sesi harga emas melonjak 1,3 persen setelah peringatan dari CEO Moderna bahwa vaksin Covid-19 cenderung kurang efektif terhadap varian baru. Namun, merosot dengan cepat setelah pernyataan yang cenderung hawkish dari Ketua Fed. 

Dalam sebuah kesaksian di hadapan Komite Perbankan Senat AS, Kepala Fed Jerome Powell mengatakan The Fed kemungkinan akan membahas percepatan pengurangan pembelian obligasi skala besar pada pertemuan berikutnya. Komentar Powell mendorong sedikit rebound dalam dolar. Sementara itu, indeks acuan saham AS jatuh setelah pidato Powell. Kondisi ini mendorong investor untuk menjual emas untuk menutupi margin call. 

Adapun, dia juga berbicara kekhawatiran tentang Omicron, mengatakan Fed dapat mengakhiri pembelian asetnya beberapa bulan lebih awal. 

Emas digunakan untuk lindung nilai terhadap inflasi, tetapi kenaikan suku bunga meningkatkan peluang kerugian memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil. Namun, dalam jangka panjang, emas akan didukung oleh kekhawatiran atas varian virus.

Penurunan emas datang bersamaan dengan penurunan di Wall Street, setelah komentar Powell mengisyaratkan pergeseran yang lebih cepat ke kebijakan pengetatan yang merugikan sentimen risiko yang sudah terbebani oleh kekhawatiran atas Omicron. 

Sementara itu, Indeks Kepercayaan Konsumen Conference Board turun ke 109,5 di November dari 111,6 di Oktober. Ini merupakan penurunan keempat dalam lima bulan terakhir.

Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Maret turun 3,7 sen menjadi ditutup pada 22,815 dolar AS per ounce. Adapun, platinum untuk pengiriman Januari turun 3,86 persen, menjadi ditutup pada 927,30 USD per ounce.

Di sisi lain, GBP menurun tipis ke 1,33104 dolar AS, namun EUR/USD naik ke 1,13260. Pasangan AUD/USD melonjak ke 0,71508 dan USD/JPY menurun ke 113,307.