Dolar Lebih Lemah Pada Senin Pagi Setelah Rilis Payrolls AS Minggu Lalu

Dolar lebih lemah pada Senin pagi setelah rilis laporan tenaga kerja Non-Farm Payroll AS pekan lalu yang dirilis sangat jauh dari perkiraan.

Diluar perkiraan penambahan lapangan kerja diluar sektor pertanian atau Non-Farm Payroll hanya menambahkan sebanyak 266K yang sangat jauh dari perkiraan mendekati 1 juta lapangan kerja.

Begitu juga data periode sebelumnya di revisi turun dari 916K menjadi hanya 770K. Sementara tingkat pengangguran juga meningkat 6.1% dari periode sebelumnya 6.0% dan juga lebih jelek dari perkiraan turun 5.8%.

Satu-satunya data positif adalah terjadinya kenaikan upah rata-rata 0.7% jauh lebih baik dari perkiraan 0.0% dan periode sebelumnya yang -0.1%. Menurunnya penambahan lapangan kerja ini diperkirakan karena sebagian rakyat AS masih segan untuk mengambil peluang kerja karena adanya dana bantuan dari paket stimulus fiskal bulan Maret lalu, yang masih berlaku hingga bulan September mendatang.

Terutama di sektor manufaktur dan tenaga kerja paruh waktu, meskipun di sektor pariwisata terjadi peningkatan sebanyak 330K lapangan kerja namun tidak diimbangi dengan sektor manufaktur.

Dengan data ini menegaskan mengapa ketua Fed – Jerome Powell dan pejabat Fed lainnya belum membahas perihal tapering dalam pertemuan moneter beberapa pekan lalu. Hal ini sekaligus menghapus spekulasi akan terjadinya lonjakan inflasi seperti yang selama ini beredar di pasar.

Sementara itu Euro menguat hingga 1.2172 mendekati level tertinggi yang terjadi pada 26 Februari lalu di 1.2177 seiring dengan pelemahan mata uang dolar. Fundamental ekonomi Uni Eropa sendiri tidak ada yang dirilis namun dengan laju program vaksinasi yang semakin meningkat diharapkan dapat segera menyusul pemulihan ekonomi di AS dan Inggris tidak lama lagi.

Hari ini akan dirilis data sentimen investor dan sepanjang pekan ini akan dirilis data sentimen ekonomi dari ZEW dan juga data inflasi di Jerman dan Prancis serta proyeksi ekonomi dari Komisi Eropa.

Guo Ji Ri Bao Edisi 10 Mei 2021

PT. Mentari Mulia Berjangka dengan bangga memberitahukan bahwa perusahaan kami diliput oleh harian Guo Ji Ri Bao edisi 10 Mei 2021! Dalam edisi kali ini, Guo Ji Ri Bao mengundang analis senior kami, Ling JianQi, untuk berbagi pandangannya.

LIBUR HARI RAYA IDUL FITRI

PEMBERITAHUAN
No: 054/MMB-KP/SPb/V/2021

Kepada : Seluruh Nasabah dan Trader
Perihal : Pengumuman Libur Idul Fitri 1442 H

Sehubungan dengan libur Idul Fitri 1442 H yang jatuh pada hari Kamis-Jumat, 13-14 Mei 2021, maka kegiatan operasional perbankan ditutup pada tanggal 12 Mei 2021, berikut kami sampaikan bahwa :

  • Transaksi Deposit (Top Up) tetap dapat dilakukan dengan melampirkan bukti transfer ke email : [email protected]
  • Transaksi Penarikan Dana (Withdrawal), tidak tersedia selama operasional perbankan tutup, dan akan tersedia kembali pada tanggal 17 Mei 2021.
  • Tim Customer Service (CS) kami tetap beroperasi dalam 24 jam selama hari libur Nasional berlangsung. Jika ada pertanyaan lebih lanjut, silakan hubungi kami melalui Whatsapp ke : 0821-1870 6868 dan 0812-8763 1685.

Demikian surat ini kami sampaikan, atas perhatian dan kerja samanya kami ucapkan terima kasih.

Jakarta, 7 Mei 2021
Hormat kami,

Ofik Taufiqurohman
Direktur Utama

Dolar Lebih Lemah Jumat Pagi Menjelang Laporan Non-farm Payrolls AS

Dolar melemah terhadap mata uang lainnya menjelang laporan tenaga kerja Non-Farm Payroll malam ini. Dengan perkiraan akan terjadi penambahan lapangan kerja mendekati 1juta atau tepatnya sebanyak 990K dari periode sebelumnya 916K. Ini merupakan kenaikan terbanyak sejak Agustus tahun lalu seiring dengan pemulihan ekonomi dengan pelonggaran sejumlah pembatasan sebelumnya.

Sejumlah besar perusahaan kembali berbisnis sehingga melakukan perekrutan sumber daya manusia untuk mengisi kekosongan yang terjadi sebelumnya.   Meskipun demikian tidak sepenuhnya laju penambahan tenaga kerja ini secepat yang diperkirakan dimana komponen tenaga kerja dari sektor manufaktur justru terus menurun dalam 5 bulan terakhir dan tidak terjadi pengurangan yang cukup signifikan dari laporan mingguan klaim pengangguran.

Data ISM sektor jasa dan data ADP meskipun naik namun tidak sebanyak yang diperkirakan. Ini menandakan meski terjadi lonjakan penambahan lapangan kerja di sektor jasa namun secara umum aktifitas ekonomi di sektor jasa masih belum terlalu banyak permintaannya. Sedangkan argumen yang positif adalah terjadinya penurunan jumlah PHK seperti yang dilaporkan Challlenger -96.6% dari periode sebelumnya -86.2%.

Kepercayaan konsumen yang meningkat hingga level tertinggi sejak Maret tahun lalu dan indeks sentimen konsumen dari University of Michigan yang naik tajam. Selain data Non-Farm Payroll, pasar juga akan mencermati data upah rata-rata dan tingkat pengangguran yang dirilis bersamaan.

Di lain tempat, Poundsterling melemah terhadap Dolar paska pertemuan moneter MPC dari Bank Sentral Inggris (BOE). Seperti yang sudah diperkirakan tidak ada perubahan kebijakan moneter dan juga tidak ada tapeirng atau pengurangan program QE-nya. BOE optimis akan pemulihan ekonomi seiring dengan pelonggaran bertahap yang dilakukan namun optimisme ini tidak diikuti dengan proyeksi kebijakan moneter yang lebih cepat. BOE menyatakan kebijakan moneter tidak akan berubah sampai inflasi 2% dan utilitas kapasitas mencapai maksimum.

Guo Ji Ri Bao Edisi 7 Mei 2021

PT. Mentari Mulia Berjangka dengan bangga memberitahukan bahwa perusahaan kami diliput oleh harian Guo Ji Ri Bao edisi 7 Mei 2021! Dalam edisi kali ini, Guo Ji Ri Bao mengundang analis senior kami, Zhen QuanXi, untuk berbagi pandangannya.

Dolar Cenderung Melemah Meskipun Data Tenaga Kerja ADP Meningkat

Dolar cenderung melemah terhadap mata uang lainnya pada perdagangan hari Kamis menjelang laporan tenaga kerja Non-Farm Payroll yang baru akan dirilis esok hari. Laporan tenaga kerja dari ADP juga masih terus meningkat dengan penambahan lapangan kerja sebanyak 742K dari periode sebelumnya 565K walaupun masih lebih sedikit dari perkiraan 872K.

Namun data masih mecnatatkan kenaikan terbanyak dalam 7 bulan terakhir seiring dengan kembali berputarnya roda ekonomi dengan program vaksinasi yang agresif dan stimulus fiskal dari pemerintah AS. Sementara data PMI sektor jasa dari ISM mengalami penurunan 62.7 dari periode sebelumnya 63.7 dan lebih jelek karena diperkirakan naik 64.2. Penurunan ini dikarenakan terbatasnya sumber daya yang tersedia sepanjang berjalannya pandemik sedangkan permintaan paska pandemik melonjak tajam.

Setelah kemarin Menteri Keuangan – Janet Yellen berkoemntar perlunya kenaikan suku bunga untuk mencegah ekonomi di AS mengalami overheating. Tadi malam sejumlah pejabat Fed kembali menyampaikan komentar perihal ekonomi di AS. Ketua Fed cabang Chicago – Charles Evans mengatakan lebih optimis akan pertumbuhan ekonomi di AS dibandingkan beberapa bulan yang lalu namun masih akan tetap mempertahankan kebijakan suku bunga rendah saat ini untuk beberapa waktu lagi.

Sementara Ketua Fed cabang Cleveland – Loretta Mester mengatakan sektor tenaga kerja perlu lebih ditingkatkan sebelum dilakukan pengetatan moneter oleh Fed. Pejabat Fed masih teguh mengenai perubahan kebijakan moneter baru akan dilakukan pada tahun 2023 mendatang, namun spekulasi di pasar terus berkembang bahwa perubahan kebijakan moneter dapat terjadi lebih awal terlebih setelah yield obligasi pemerintah AS kembali naik.

Guo Ji Ri Bao Edisi 6 Mei 2021

PT. Mentari Mulia Berjangka dengan bangga memberitahukan bahwa perusahaan kami diliput oleh harian Guo Ji Ri Bao edisi 6 Mei 2021! Dalam edisi kali ini, Guo Ji Ri Bao mengundang analis senior kami, Ling JianQi, untuk berbagi pandangannya.

Dolar Diperdagangkan Menguat Menjelang Rilis Data Payrolls AS

Dolar AS diperdagangkan menguat pada hari Rabu menjelang rilis laporan sektor tenaga kerja Non-Farm Payroll pada hari Jumat nanti. Penguatan ini dipicu oleh komentar dari Menteri Keuangan yang juga mantan Ketua Fed – Janet Yellen yang mengatakan suku bunga Fed harus dinaikkan untuk mencegah ekonomi overheating. Komentar ini dikaitkan dengan rencana anggaran Presiden Biden yang mencapai $4 triliun termasuk untuk infrastruktur dan investasi.

Anggaran pembangunan sebanyak itu dan dipadukan dengan laju program vaksinasi yang cepat dikhawatirkan akan memicu lonjakan inflasi yang akan memaksa Fed untuk melakukan pengetatan moneter dengan menaikkan suku bunga. Komentar Yellen ini berbeda dengan pernyataan Yellen sebelumnya yang sepakat Federal Reserve dan dengan pejabat administrasi Presiden Biden yang mengindikasikan lonjakan inflasi dalam waktu dekat ini hanya bersifat transisi atau temporer.

Data ekonomi yang dirilis tidak terlalu banyak berpengaruh dengan defisit neraca perdagangan di AS masih naik -74.4B nyaris sesuai perkiraan -74.5B dari periode sebelumnya -70.5B. Factory Order naik 1.1% dari periode sebelumnya -0.5% walaupun masih dibawah perkiraan 1.3%.

Sedangkan indeks optimisme ekonomi dari IBD/TIPP malah turun 54.4 dari periode sebelumnya 56.4 dan perkiraan 56.1. Hari ini akan dirilis data tenaga kerja di sektor swasta ADP dan juga data PMI di sektor jasa. Data PMI di sektor jasa akan dicermati untuk mengetahui seberapa besar perubahan setelah pelonggaran seiring dengan vaksinasi yang cepat di AS.

Poundsterling relatif masih tertahan terhadap Dolar walaupun mendekati level tertinggi terhadap Euro. Pasar masih menunggu pertemuan moneter Bank Sentral Inggris (BOE) pada hari Kamis esok hari. Tidak diharapkan ada perubahan kebijakan moneter yang dihasilkan, namun dengan perkembangan program vaksinasi dan pelonggaran yang terus dijalankan diharapkan akan menjadi bahan bagi perubahan prakiraan ekonomi dari BOE dalam pertemuan tersebut. Pemerintah Inggris sendiri akan mengakhiri sosial distancing 1 meter pada 21 Juni mendatang.

Guo Ji Ri Bao Edisi 5 Mei 2021

PT. Mentari Mulia Berjangka dengan bangga memberitahukan bahwa perusahaan kami diliput oleh harian Guo Ji Ri Bao edisi 5 Mei 2021! Dalam edisi kali ini, Guo Ji Ri Bao mengundang analis senior kami, Zhen QuanXi, untuk berbagi pandangannya.

Dolar Menguat Pada Pasar Asia Dibantu Ekspektasi Penguatan Ekonomi AS

Dolar relatif menguat terhadap mata uang utama lainnya pada perdagangan Selasa pagi seiring dengan optimisme dari pejabat Fed yang menginginkan perubahan kebijakan moneter lebih cepat.

Namun pernyataan tersebut kembali dibantah oleh pejabat Fed lainnya yaitu Ketua Fed cabang New York – John Williams yang mengatakan pertumbuhan ekonomi berpeluang naik dengan laju tercepat dalam satu dekade terakhir seiring dengan pemulihan ekonomi pasca pandemik. Namun kondisi sistem keuangan masih jauh dari kondisi seperti sebelum terjadinya pandemik sehingga Fed masih belum perlu untuk mengubah kebijakan moneternya seperti semula.

Meskipun demikian hal ini masih belum cukup untuk memenuhi dua mandat Fed yaitu inflasi dan full employment sehingga Fed masih belum perlu mengubah kebijakan moneter saat ini. Karena dengan kebijakan moneter suku bunga rendah dan program QE-nya saat ini memberikan kontribusi besar dalam pencapaian target Fed tersebut di atas. Perihal lonjakan inflasi dalam jangka pendek masih akan naik di atas 2% namun akan kembali turun di tahun depan.

Fed masih perlu lebih banyak data ekonomi yang betul-betul memberikan fundamental solid untuk dapat mengubah kebijakan moneternya. Dengan komentar dari Williams di atas, investor terbagi menjadi dua kubu dalam menanggapi perlu tidaknya perubahan kebijakan moneter Fed ini sehingga dolar pun bergerak variatif.

Sementara Ketua Fed – Jerome Powell dalam pidato semalam mengatakan outlook ekonomi jelas-jelas semakin membaik namun belum cukup untuk mengubah kebijakan moneter. Powell berjanji akan lebih transparan saat ekonomi benar-benar pulih dan Fed bersiap untuk mengubah kebijakan moneternya.

Data ekonomi berupa PMI sektor manufaktur dari ISM juga di luar perkiraan menunjukkan penurunan ke 60.7 dari periode sebelumnya 64.7 yang juga jauh lebih buruk dari perkiraan naik 65.0. Sedangkan di sektor konstruksi terjadi kenaikan 0.2% walau masih jauh dari perkiraan 1.7% namun cukup signifikan dari periode sebelumnya -0.6%.