Dolar Lebih Kuat Pada Pasar Hari Selasa Menjelang Rilis Data Inflasi AS

Dolar lebih kuat pada perdagangan hari Selasa dengan menguat terhadap hampir semua mata uang perdagangan lainnya, menjelang rilis data inflasi CPI AS malam hari nanti.

Selain itu data yield obligasi pemerintah AS yang terus naik juga membantu rally penguatan greenback. Sebelumnya data inflasi dari sisi produsen PPI di AS baik data umum maupun data inti meningkat tajam dari periode sebelumnya dan juga merupakan kenaikan tertinggi dalam 9,5 tahun terakhir jika dibandingkan dengan data periode yang sama tahun lalu. Hal ini membuat ekspektasi yang sama akan terjadi pada data inflasi dari sisi konsumen CPI malam ini.

Data CPI di China yang sudah dirilis sebelumnya juga naik tajam +0.4% dari periode sebelumnya yang -0.2%, ini merupakan kenaikan tertinggi sejak Juli 2018 yang menunjukkan pemulihan ekonomi cukup solid dengan permintaan yang tinggi di negara ekonomi terbesar kedua ini.

Hampir dipastikan hal yang sama terjadi juga di negara AS yang merupakan negara ekonomi terbesar pertama ini. Terutama dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu dimana bermulanya terjadi pandemik dan sejumlah perusahaan dan industri ditutup. Dengan paket stimulus dan infrastruktur yang mendukung daya beli dan sektor tenaga kerja serta program vaksinasi yang sudah mencapai setidaknya 120 juta penduduk dewasa mendapatkan suntikan vaksin pertama.

Hal ini juga diakui oleh Ketua Fed – Jerome Powell dalam pertemuan virtual yang diadakan oleh IMF akhir pekan lalu dengan mengatakan ekonomi di AS dalam kondisi titik balik dengan ekspektasi yang tinggi seiring dengan naiknya sektor tenaga kerja yang diharapkan akan memacu perekonomian lebih laju.

Poundsterling rebound terhadap Dolar menjelang rilis sejumlah data penting ekonomi. Hari ini akan dirilis data industrial production, GDP dan neraca perdagangan secara berbarengan. Dengan dibukanya pembatasan seiring dengan program vaksinasi yang sukses menjadikan Inggris sebagai pemimpin dalam pemulihan ekonomi di Eropa. Hingga kemarin sudah tercapai Inggris sudah mencapai tonggak sejarah baru dengan 90% penduduk dewasa di Inggris sudah mendapatkan vaksin.

Dolar Lebih Kuat Pada Pasar Asia Dipicu Peningkatan Ekonomi AS

Dolar AS lebih kuat terhadap mata uang lainnya pada pasar Asia hari Senin, dipicu oleh set data makro ekonomi AS yang lebih kuat yang meningkatkan harapan lonjakan inflasi.

Set data inflasi dari sisi produsen PPI di AS meningkat 2x lipat ke 1.0% dari periode sebelumnya 0.5%. Sementara data Core juga naik cukup signifikan 0.7% dari periode sebelumnya yang hanya 0.2%. Data-data ini merupakan kenaikan tertinggi dalam 9.5 tahun terakhir jika dibandingkan dengan data periode yang sama tahun lalu.

Sementara itu data inflasi di China juga sama yaitu terjadi peningkatan yang melampaui perkiraan dan merupakan kenaikan tertinggi sejak Juli 2018. Dengan 2 negara ekonomi terbesar yang menunjukkan indikasi terjadinya lonjakan inflasi menandakan pemulihan ekonomi berjalan baik di kedua negara tersebut. Dan diharapkan akan memicu pemulihan ekonomi secara global seiring dengan permintaan yang kembali meningkat.

Namun Fed memperkirakan kenaikan ini hanya bersifat sementara sebelum akhirnya nanti akan kembali normal. Hal ini berulang kali disampaikan oleh pejabat Fed dan Ketua Fed – Jerome Powell juga menyatakan hal yang sama pekan lalu. Powell kembali mengulangi hal tersebut dengan mengatakan ekonomi AS saat ini dalam titik balik dengan inflasi dan daya serap tenaga kerja meningkat tajam dalam beberapa bulan mendatang. Meskipun demikian, risiko masih tetap ada terutama dari peluang kembali naiknya kasus covid-19 yang melanda di beberapa negara di belahan dunia.

Di lain tempat Euro cenderung lebih rendah seiring dengan sejumlah data ekonomi di kawasan ini yang negatif. Data industrial production di Jerman masih mengalami penurunan -1.6% yang lebih buruk dari perkiraan meningkat +1.6% dari periode sebelumnya -2.0%.

Data yang sama industrial production di Prancis juga turun -4.7% dari periode sebelumnya 3.2% dan cukup jauh dari perkiraan turun 0.5%. Sedangkan surplus neraca perdagangan menurun ke 19.1B dari periode sebelumnya 21.3B dan di bawah ekspektasi 23.4B.

Hanya data Retail Sales di Italia yang menunjukkan peningkatan tajam 6.6% dari periode sebelumnya -2.7% dan jauh lebih baik dari perkiraan 2.0%.

Dolar Terkoreksi pada Pasar Hari Jumat Seiring Pelemahan Data Tenaga Kerja AS

Dolar terkoreksi terhadap mata uang lainnya pada pasar Asia hari Jumat, seiring dengan laporan sektor tenaga kerja yang mengecewakan. Setelah laporan Non-Farm Payroll dan data PMI yang melampaui perkiraan, data mingguan klaim pengangguran yang dirilis semalam mengalami kenaikan 744K yang cukup jauh melampaui perkiraan dan data periode sebelumnya juga direvisi dari 719K menjadi 728K.

Dengan ekspektasi pemulihan ekonomi yang solid dengan pelonggaran pembatasan dan paket stimulus, data ini cukup mengejutkan pasar sehingga dolar mengalami koreksi. Sementara itu Ketua Fed – Jerome Powell dalam pidato semalam terus menegaskan bahwa Fed masih akan mempertahankan kebijakan moneter saat ini walaupun diharapkan akan terjadi lonjakan inflasi yang diperkirakan akan bersifat temporer.

Selain itu Powell lebih mengkhawatirkan terjadi peningkatan kasus varian baru covid-19 yang kembali meningkat di AS dan secara global dikhawatirkan akan kembali menghambat pemulihan ekonomi. Sehingga menganjurkan seluruh penduduk AS untuk segera di vaksinasi dan terus menjaga jarak. Sedangkan Ketua Fed cabang St Louis – James Bullard mengatakan belum ada diskusi untuk mengubah kebijakan moneter sampai pandemik benar-benar berakhir.

Sementara itu, Euro terus bergerak naik seiring dengan Dolar yang terus tertekan. Data ekonomi di Uni Eropa juga masih mixed, dengan factory order Jerman meningkat cukup signifikan 1.2% dari 0.8% walaupun tidak sebanyak yang diperkirakan 1.3%.

Sedangkan, data PPI turun drastis dari 1.7% menjadi hanya 0.5% lebih jelek dari perkiraan 0.6%. Sementara laporan nota pertemuan moneter Bank Sentral Eropa (ECB) juga tidak secara gamblang menjelaskan pandangan pejabat ECB terhadap kondisi ekonomi terkini.

Mengenai pertumbuhan ekonomi sejumlah pejabat mengemukakan faktor positif yang mendukung sedangkan sejumlah lainnya menunjukkan faktor negatif. Perihal inflasi yang di luar perkiraan terus meningkat juga tiak terlalu mengkhawatirkan karena diperkirakan hanya bersifat temporer.

Program QE secara sepakat masih akan terus dijalankan untuk menjaga stabilitas di tengah lonjakan yield obligasi. Dan akan diadakan penilaian kondisi keuangan dan inflasi secara berkala per kuartal. Tidak ada ketetapan yang dapat diambil oleh pasar dari hasil pertemuan tersebut.

Dolar Berbalik Menguat Pada Kamis Pagi Pasca Rilis Minutes FOMC

Dolar AS berbalik menguat pada perdagangan Kamis pagi, pasca rilis minutes pertemuan moneter FOMC.

Minutes dari FOMC mencatatkan komitmen Fed untuk terus memberikan jaminan berupa dukungan kebijakan moneter hingga ekonomi benar-benar pulih. Meskipun tahun ini diperkirakan ekonomi akan melambung namun pejabat Federal Reserve tetap waspada akan resiko pandemik terhadap dampak ekonomi yang kemungkinan terjadi. Selain itu nota tersebut juga mengungkapkan memerlukan waktu dan beberapa data ekonomi berupa inflasi dan sektor tenaga kerja yang pasti sebelum membuat perubahan kebijakan moneter yang substansial.

Secara umum AS masih memimpin pemulihan ekonomi global dengan program vaksinasi yang agresif, Presiden Biden bahkan menargetkan seluruh penduduk dewasa AS akan mendapatkan vaksinasi dalam 2 pekan mendatang. Paket stimulus fiskal dan program infrastruktur menjadi katalis bangkitnya ekonomi di AS. Dengan peluang besar program infrastruktur diloloskan kongres.

Menteri Keuangan – Janet Yellen merilis detil mengenai proposal kenaikan pajak salah satunya dengan mengalihkan subsidi pajak dari perusahaan yang berbasis BBM fosil kepada perusahaan dengan energy yang lebih ramah lingkungan. Belum ada kepastian mengenai besaran kenaikan tersebut meskipun diperkirakan dinaikkan menjadi 28% dari sebelumnya 21% dan ini pun Presiden Biden siap bernegosiasi mengenai besaran tersebut.

Angka ini masih dibawah pemotongan pajak yang dilakukan pada masa kepemimpinan mantan Presiden Trump yang menurunkan pajak dari 35% menjadi 21%. Data ekonomi masih menunjukkan defisit neraca perdagangan AS masih meningkat -71.1B melebihi perkiraan meningkat -70.2B dari periode sebelumnya -67.8B.

Malam ini Ketua Fed – Jerome Powell akan kembali menyampaikan pidato dalam seminar virtual yang diadakan oleh IMF.

Sementara itu Euro relatif masih tertahan meskipun data ekonomi di kawasan Eropa menguat. Dari 4 negara utama di Uni Eropa hanya PMI sektor jasa di Itali yang turun. Selain itu semuanya meningkat melampaui perkiraan, walaupun di Spanyol dan Prancis masih dibawah angka ekspansi 50. Sedangkan di Jerman sudah melampaui angka ekspansi di 51.5.

Secara umum PMI sektor jasa di Uni Eropa mendekati angka 50 di 49.6 naik dari periode sebelumnya 48.8. Hari ini akan dirilis sejumlha data yaitu Factory order di Jerman, neraca pedagangan di Prancis, data inflasi PPI dan juga rilis nota pertemuan moneter Bank Sentral Eropa (ECB) bulan lalu.

Dolar Melemah Rabu Pagi Seiring dengan Penurunan Yield Obligasi AS

Dolar terus melemah terhadap mata uang lainnya pada Rabu pagi seiring dengan pasar yang melakukan taking profit dari rally kenaikan greenback pada beberapa sesi sebelumnya.

Yield obligasi 10 tahun pemerintah AS yang terus turun menjauh dari level tertinggi. Pasar menunggu laporan nota minutes pertemuan moneter FOMC bulan lalu dan juga data-data ekonomi kwartal pertama berikutnya yang berakhir bulan Maret lalu. Setelah data sektor tenaga kerja dan data PMI sektor jasa yang positif menunjukkan perkembangan pemulihan ekonomi di AS yang berjalan lancar.

Data PMI yang sama dari negara ekonomi terbesar kedua – China juga menunjukkan hal yang serupa di sektor jasa. Sedangkan IMF juga menaikkan prakiraan ekonomoi global dengan pertumbuhan sebanyak 6% seiring dengan perkembangan pesat ekonomi di AS. Dengan program vaksinasi yang sudah mencapai 170 juta penduduk AS dan target seluruh penduduk dewasa di vaksinasi dimajukan oleh Presiden Biden menjadi hanya dalam 2 pekan mendatang.

Ketersediaan vaksin, tenaga medis yang dikerahkan dan lokasi vaksinasi yang semakin banyak menjadi dasar optimisme tersebut. Sementara program infrastruktur dan investasi senilai $2 triliun yang dicanangkan oleh Presiden Biden masih digodok di Kongres. Dengan dukungan Partai Demokrat yang berencana untuk terus meloloskan program ini walau tanpa persetujuan dari oposisi Partai Republik dengan bypass beberapa aturan di Kongres.

Data ekonomi yang dirilis semalam berupa job opening dan optimisme ekonomi juga masih positif. Hari ini akan dirilis data neraca perdagangan dan laporan nota minutes pertemuan moneter FOMC bulan lalu. Meskipun Federal Reserve berulang kali mengatakan perubahan pengetatan moneter baru akan dijalankan setidaknya pada 2023 mendatang.

Sementara di lain tempat, Sterling terus menguat terhadap Dolar dan juga Euro meskipun di tengah minimnya rilis set data makro ekonomi Inggris.

Sentimen di Inggris sendiri masih cukup positif dengan semakin dilonggarkannya pembatasan, rencana pembukaan fasilitas publik seperti pusat perbelanjaan, hotal dan resoran serta tempa wisata lainnya. Ditambah dengan akan diberikannya kemudahan bagi perjalanan internasional oleh Perdana Menteri – Boris Johnson.

Euro terus bergerak naik terhadap dolar dan juga GBP meskipun data ekonomi relatif mixed. Dengan tingkat pengangguran yang masih stabil 8.3% lebih jelek dari perkiraan 8.1%. Sentimen investor secara global meningkat tajam 13.1 dari periode sebelumnya 5.0 dan lebih baik dari perkiraan 6.8. Sedangkan untuk kawasan Eropa sendiri juga naik 8.5 yang merupakan rekor tertinggi sejak Agustus 2018 lalu.

Optimisme global menjadi pemicu harapan yang sama meskipun sejumlah pembatasan ketat berupa lockdown masih diberlakukan di beberapa tempat di kawasan ini. Hari ini akan di rilis data PMI di sektor jasa di Spanyol. Prancis, Italy dan Jerman serta untuk kawasan Uni Eropa secara keseluruhan.

Dolar Terkoreksi Meskipun Data Ekonomi AS Mencatat Kenaikan

Dolar AS terkoreksi pada perdagangan pasar Asia hari Selasa di tengah set data fundamental ekonomi yang masih sangat positif. Penurunan dolar ini disebabkan oleh rendahnya likuiditas karena masih belum beroperasinya sejumlah pasar mata uang dunia baik di Asia maupun Eropa.

Data ekonomi di AS menurut ISM di sektor jasa menunjukkan peningkatan yang mencapai rekor tertinggi 63.7 dari periode sebelumnya 55.3 yang juga melampaui perkiraan 58.3. Ini menggambarkan sektor jasa di AS yang sangat optimis akan prospek pemulihan ekonomi dengan indeks kepercayaan manager pembelian tersebut. Data ini semestinya mendukung laporan Non-Farm Payroll yang dirilis hari Jumat pekan lalu yang juga menunjukkan sektor tenaga kerja yang solid dengan kenaikan penambahan lapangan kerja yang mendekati 1 juta.

Dengan proyek infrastruktur dan investasi yang direncanakan oleh Presiden Biden senilai $2 triliun diperkirakan penambahan lapangan kerja akan meningkat tajam. Sehingga sektor tenaga kerja yang akan semakin membaik dan dipadukan dengan peluang terjadinya lonjakan inflasi seiring dengan daya beli yang meningkat tidak hanya upah namun juga dana bantuan langsung dari paket stimulus bulan Maret lalu.

Sisi buruknya dengan tersedia banyaknya lapangan membuat tingkat kompetitif pekerja semakin tinggi sehingga kemungkinan akan membuat tingkat upah menjadi lebih rendah seiring dengan persaingan tersebut. Sementara itu, data lain yang negatif adalah factory order yang turun -0.8% dari periode sebelumnya 2.7% dan lebih jelek dari perkiraan -0.5%. Hari ini akan dirilis data Job opening dari JOLTS dan Optimisme ekonomi dari IBD/TIPP.

Dolar AS Terus Menguat Hari Senin Seiring dengan Laporan Payroll yang Lebih Baik

Dolar AS masih terus menguat pada perdagangan hari Senin, seiring dengan laporan Non-Farm Payroll Jumat lalu yang sangat baik. Penambahan lapangan kerja di AS meningkat tajam sebanyak 916K yang melampaui perkiraan 652K dan data periode sebelumnya juga direvisi naik dari 379K menjadi 468K.

Tentu saja hal ini semakin mempertegas pemulihan ekonomi dari krisis akibat pandemik yang sudah berjalan lebih dari 1 tahun terakhir. Karena selain inflasi yang menjadi tolok ukur adanya perubahan kebijakan moneter bagi Federal Reserve adalah sektor tenaga kerja ini.

Data tingkat pengangguran juga turun 6% sesuai perkiraan dari periode sebelumnya 6.2%. Sementara upah rata-rata menurun untuk pertama kali sejak Juni tahun lalu sebanyak -0.1% melebihi perkiraan turun ke 0.1% dari periode sebelumnya 0.3%. Dengan data yang solid ini namun reaksi di pasar terbatas dikarenakan berbarengan dengan libur paskah dimana sebagian besar pasar atau bursa tidak beroperasi.

Meskipun demikian, yield obligasi 10 tahun pemerintah AS kembali naik hingga 1.717% atau naik 4 bps dari periode sebelumnya. Harapan akan pemulihan ekonomi di AS semakin besar setelah lebih dari 38% atau 1 dari 5 penduduk dewasa mendapatkan vaksin.

Prospek pemulihan ekonomi di AS didukung oleh memasukinya musim semi dan menjelang musim panas yang merupakan musim belanja setelah dibagikannya dana bantuan dari paket stimulus baru akan membuat aktifitas ekonomi semakin meningkat. Pusat pengendalian penyakit menular AS (CDC) bahkan sudah memperbolehkan penduduk yang sudah divaksinasi untuk melakukan perjalanan sehingga industri transportasi juga diharapkan akan segera pulih.

Sementara itu, Euro relatif masih tertekan terhadap Dolar seiring dengan belum adanya tanda-tanda pemulihan dan terus dibayangi oleh gelombang pandemik ketiga. Berbeda dengan mitra dagangnya AS dan Inggris yang mulai membuka lockdown, di kawasan Eropa justru kembali memperpanjang masa berlaku lockdown. Seperti yang sduah dilakukan di Italia dan Prancis dan menyusul di Jerman.

Ketertinggalan dalam program vaksinasi mengakibatkan meningkatnya kasus baru pasien covid-19 membuat kawasan Uni Eropa terancam gelombang ketiga pandemik. Hari ini di Jerman. Prancis dan Italy masih libur sedangkan data ekonomi yang akan dirilis pekan ini adalah data sektor tenaga kerja, PMI di sektor jasa, Factory order dan industrial productioan di Jerman.

Dolar Menguat Pada Perdagangan Kamis Seiring dengan Kenaikan Yield Obligasi

Dolar masih terus mempertahankan kenaikannya pada perdagangan Kamis. Greenback terus menguat terhadap Yen seiring dengan kenaikan obligasi AS.

Optimisme akan AS memimpin pemulihan ekonomi terus membuat permintaan akan mata uang dolar terus meningkat. Paket stimulus fiskal dan laju program vaksinasi yang jauh melampaui target pertama dan sudah setengah jalan menuju target kedua baru yang ditetapkan oleh Presiden Biden ditambah dengan rencana pembangunan infrastruktur yang baru saja dipaparkan membuat sentimen terhadap pemulihan ekonomi di AS semakin kuat.

Presiden Biden mengungkapkan proyek infrastruktur senilai $621 milyar yang termasuk kedalam $2 triliun program kerja dibidang tenaga kerja. Jika digabungkan dengan paket stimulus, kedua program kerja ini merupakan peran pemerintah federal AS terbesar dalam 1 generasi yang mencapai 20% dari annual output negara AS.

Meski demikian program infrastruktur tersebut tidak di gelontorkan serentak namun dibagi menjadi 10 tahun yang akan diimbangi dengan kenaikan pajak secara bertahap dari 21% menjadi 28% ditambah dengan pendanaan dari repatriasi mata uang dari perusahaan yang beroperasi di luar negeri.

Sementara itu data ekonomi di sektor tenaga kerja juga meningkat tajam dengan penambahan tenaga kerja di sektor swasta meningkat 517K atau hampir 3x lipat dari periode sebelumnya yang juga direvisi naik dari 117K menjadi 176K, walaupun masih di bawah perkiraan 552K.

Dengan data ini diperkirakan data Non-Farm Payroll yang akan dirilis hari Jumat setidaknya akan menyamai peningkatan ini. Sedangkan data Chicago PMI juga meningkat 66.3 melampaui perkiraan 61.2 dari periode sebelumnya 59.5. Hari ini akan dirilis data PHK dari Challenger, PMI manufaktur dan laporan mingguan klaim pengangguran.

Pasar Mata Uang Asia Melemah Rabu Pagi Tertekan Rally Kenaikan Greenback

Pasar mata uang Asia lebih rendah Rabu pagi, tertekan rally kenaikan greenback pada minggu ini. Dolar mencatatkan harga tertinggi tahunan terakhir terhadap Yen dan Euro.

Rally kenmaikan Dolar ini mengikuti kenaikan yield obligasi 10 tahun pemerintah AS yang sempat naik ke level tertinggi dalam 14 bulan terakhir di 1.776% walaupun ditutup pada 1.727%. Lajunya program vaksinasi dan didukung oleh paket stimulus yang sudah mulai disalurkan membuat optimisme pertumbuhan ekonomi tahun ini tidak saja sekedar pulih namun juga sangat-sangat baik.

Optimisme ini disampaikan oleh sejumlah pejabat Federal Reserve termasuk Ketua Fed – Jerome Powell dalam beberapa kesempatan lalu. Pejabat Fed lainnya – Ketua Fed cabang New York : John William mengatakan banyak hal positif akan terjadi pada ekonomi.

Selain program vaksinasi dan paket stimulus namun cuaca yang memasuki musim semi menuju musin panas membuat aktifitas ekonomi akan semakin meningkat. Ketua Fed cabang Atlanta – Raphael Bostic juga melihat arah ekonomi ke depan adalah naik meningkat. Permintaan dolar juga meningkat karena hari ini merupakan tutup buku untuk kwartal pertama tahun ini untuk laporan keuangan perusahaan internasional.

Sejumlah data akan dirilis hari ini diantaranya data tenaga kerja ADP, Chicago PMI dan data sektor perumahan. Sedangkan Presiden Biden dijadwalkan akan memaparkan rencana infrastruktur senilai lebih kurang $3 triliun malam ini. Akankah Biden membalikkan kebijakan sebelumnya yang menurunkan pajak perusahaan dari 35% menjadi 21% pada tahun 2017 lalu.

Di sisi lain, Euro terus melemah terhadap Dolar hingga ke level 1.1711 yang merupakan level terendah sejak bulan November tahun lalu. Pembatasan yang semakin ketat dan meluas di Prancis dan Jerman masih menjadi penghalang utama bagi aktivitas ekonomi.

Sementara itu, program vaksinasi berjalan cukup lambat membuat penularan virus ini semakin meluas akan memperpanjang masa pembatasan aktivitas. Perbedaan spread antara yield obligasi pemerintah Jerman dengan AS yang semakin lebar juga membuat daya tarik Euro semakin berkurang. Belum ada tanda-tanda yang positif kawasan ini meski data ekonomi relatif masih bertahan.

Data inflasi CPI di Jerman menurun 0.5% sesuai perkiraan dari periode sebelumnya 0.7%. sementara di Spanyol justu meningkat 1.3% lebih baik dari perkiraan 0.7% dan periode sebelumnya 0.0%. Hari ini sejumlah data akan dirilis diantaranya data inflasi dan consumer spending di Prancis, data tenaga kerja di Jerman dan data inflasi Uni Eropa secara keseluruhan.

Dolar Menguat Selasa Pagi Seiring Dengan Kenaikan Tajam Bursa Saham AS

Dolar menguat Selasa pagi seiring dengan kenaikan tajam pada bursa saham AS pada sesi semalam.

Indeks bursa Dow Jones yang mencetak rekor tertinggi baru meskipun ada ancaman bangkrutnya perusahaan investasi global Archegos Capital berpeluang membuat perbankan lainnya merugi. Selain itu rencana pembangunan infrastruktur dari Presiden Biden yang sebelumnya disampaikan akan didanai oleh pajak perusahaan pembayar pajak terbesar. Dikhawatirkan hal ini akan berupa kenaikan pajak seiring dengan kebutuhan dana yang besar.

Sejumlah spekulasi menyatakan besaran dana yang diperlukan antara $1 triliun hingga $3 triliun yang diharapkan dari pendapatan berupa pajak. Semakin besar anggaran tentu saja pajak yang akan dikenakan akan semakin besar. Hal ini membalikkan kebijakan mantan presiden Trump sebelumnya yang menurunkan pajak perusahaan dari 35% menjadi 21% pada tahun 2017 lalu. Lebih jelasnya akan disampaikan oleh Presiden Biden di depan Kongres esok hari yang bertepatan dengan akhir bulan dan berakhirnya kwartal pertama tahun ini.

Sementara itu, harapan terhadap pemulihan ekonomi di AS terus meningkat seiring dengan vaksinasi yang sudah diharapkan akan mencapai 90% penduduk dewasa yang layak mendapatkan vaksin dalam 3 pekan mendatang sesuai dengan target baru 100 hari vaksinasi.

Di lain tempat, Poundsterling sedikit lebih rendah berbandingkan Dolar setelah sektor perumahan yang menurun. Sementara itu program vaksinasi di Inggris yang sukses diperkirakan akan terus berlanjut seiring dengan dicabutnya larangan ekspor vaksin dari Uni Eropa.

Dengan tetap tersedianya supply vaksin membuat jadwal pembukaan yang sudah direncanakan pemerintah tidak akan berubah. Data ekonomi berupa rilis data KPR menunjukkan jumlah KPR yang disetujui mengalami penurunan  dari 97K menjadi 88K. Hari ini tidak ada data yang akan dirilis.